
Sumber gambar: JPNN.com KAMURA.id – Halaman Pondok Pesantren Nurul Cholil, Bangkalan, pada Jumat (14/8), tidak seperti hari-hari biasa. Ribuan santri berkumpul, bukan untuk mengaji atau mendengarkan tausiyah, melainkan menyaksikan sebuah tim sepak bola memperkenalkan diri.
Sederet punggawa Madura United, dengan kostum sarung dan peci yang sangat khas Madura, berdiri di hadapan mereka, membuka lembaran baru menjelang Super League 2026/2027.
Bagi siapa saja yang belum akrab dengan seluruh tetek bengek soal Madura, pastilah pemandangan itu terasa ganjil. Namun bagi masyarakat pulau ini, momen tersebut justru menegaskan sesuatu yang sudah lama ditegaskan oleh Achsanul Qosasi selaku Presiden Madura United: sepak bola bukan hanya soal permainan di sepetak lapangan selama kurang lebih 90 menit; bukan juga soal urusan kalah dan menang. Madura United sebagai tim sepak bola kebanggaan orang Madura jauh melampaui hal itu.
Pilihan Ponpes Nurul Cholil sebagai lokasi launching juga bukan keputusan spontan. Manajemen Madura United mempertimbangkan kedekatan lokasi dengan kandang tim sekaligus jumlah santri yang besar, harapan yang tersirat jelas dari pernyataan Achsanul, bahwa doa para santri dan kiai diharapkan menyertai perjuangan Laskar Sape Kerrap sepanjang musim.
Ucapan itu memperlihatkan cara pandang yang khas Madura, di mana keberhasilan duniawi selalu diletakkan dalam bingkai spiritual. Prestasi olahraga tidak dianggap murni hasil kerja taktis pelatih atau kualitas pemain di lapangan hijau, melainkan juga buah dari doa dan restu figur-figur yang dihormati secara sosial dan keagamaan.
Langkah yang Punya Preseden
Langkah ini sebenarnya mengulang pola yang pernah diterapkan Madura United pada pramusim 2023/2024, ketika mereka menggelar launching di Pondok Pesantren Al-Hamidy, Banyuanyar, Pamekasan. Musim itu berbuah manis. Tim mampu tampil kompetitif sepanjang kompetisi dan melaju hingga partai final, meski akhirnya harus mengakui keunggulan Persib Bandung.
Achsanul secara eksplisit mengaitkan capaian tersebut dengan tradisi launching di lingkungan pesantren, sebuah keyakinan yang mungkin tidak selalu terbukti secara kausal dalam kacamata analitis sepak bola modern, namun tetap punya nilai penting sebagai perekat sosial antara klub dan basis pendukungnya.
Di titik inilah menarik untuk melihat lebih jauh bagaimana Madura United membangun posisinya bukan sekadar sebagai entitas olahraga profesional, melainkan sebagai bagian dari struktur sosial Madura yang lebih luas.
Pesantren di Madura bukan institusi pinggiran. Ia menempati posisi sentral dalam kehidupan masyarakat, menjadi rujukan moral sekaligus simpul jejaring sosial yang menghubungkan desa dengan desa, keluarga dengan keluarga. Ketika sebuah klub sepak bola memilih pesantren sebagai panggung perkenalan tim, ia sesungguhnya sedang meminjam legitimasi sosial yang sudah mengakar lama, sekaligus menegaskan bahwa klub tersebut memahami betul dari mana dukungan sesungguhnya berasal.
Hal ini berbeda dari pola umum klub sepak bola di kota-kota besar, yang biasanya melakukan launching tim di stadion megah, hotel berbintang, atau pusat perbelanjaan sebagai simbol modernitas dan profesionalisme korporat.
Madura United memilih jalan yang lebih menapak pada realitas. Pilihan itu selaras dengan karakter masyarakat Madura yang religius, di mana kiai dan pesantren memiliki otoritas moral yang jauh melampaui batas-batas keagamaan semata. Klub sepak bola yang ingin dicintai di Madura harus berani menanggalkan gaya seremoni korporat dan turun ke ruang-ruang yang benar-benar hidup dalam keseharian masyarakatnya.
Hasilnya, kita bisa lihat dari sikap suporter Madura United yang bukan sekadar mendukung sebelas pemain di lapangan. Mereka, selain mendukung tim yang menjadi representasi dari Madura itu sendiri, juga menyaksikan representasi dari nilai-nilai yang sudah mereka kenal sejak generasi sebelumnya, dipindahkan ke arena baru bernama sepak bola profesional.
Tantangan Lain
Tentu perlu dicatat bahwa keterikatan sosial semacam ini tidak otomatis menerjemahkan diri menjadi prestasi di atas lapangan. Musim lalu Madura United sempat berkutat lama di papan bawah klasemen, sebuah kenyataan yang menegaskan bahwa doa dan dukungan komunal, sekuat apa pun, tetap memerlukan pelengkap berupa manajemen tim yang solid, strategi kepelatihan yang matang, dan kualitas pemain yang mumpuni.
Achsanul sendiri juga menyadari hal ini ketika menyebut target musim 2026/2027 tidak sekadar keluar dari papan bawah, tetapi kembali bersaing di papan atas Super League. Target itu menunjukkan bahwa manajemen memahami batas antara ritual simbolik dan kerja teknis yang sesungguhnya menentukan hasil di lapangan.
Meski demikian, ada nilai yang tidak bisa direduksi hanya pada hasil akhir klasemen. Ketika ribuan santri dan kiai berkumpul untuk turut merestui perjalanan sebuah tim sepak bola, terbangun ikatan emosional yang jarang dimiliki klub-klub lain di Indonesia. Ikatan ini menjadi modal sosial yang tidak ternilai, sebab dukungan yang lahir dari kedekatan kultural cenderung bertahan lebih lama dibanding dukungan yang murni berbasis prestasi sesaat. Suporter yang merasa klubnya adalah bagian dari identitas keagamaan dan kultural mereka sendiri akan tetap berdiri di belakang tim, bahkan ketika performa di lapangan sedang tidak berpihak.
Perjalanan Madura United musim 2026/2027 masih panjang, dan hasil akhirnya belum bisa dipastikan sejak sekarang.
Namun apa yang terjadi di halaman Ponpes Nurul Cholil pada pertengahan Agustus itu sudah cukup untuk memperlihatkan satu hal penting: sepak bola di Madura tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakatnya. Klub ini tumbuh bukan di ruang hampa budaya, melainkan di tengah jaringan pesantren, tradisi karapan sapi, dan doa bersama yang terus dirawat lintas generasi.
Selama Madura United mampu menjaga kedekatan itu sembari terus membenahi sisi profesionalitasnya di lapangan, posisi mereka sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat Madura akan tetap kokoh, terlepas dari naik turunnya hasil pertandingan sepanjang musim.
*
Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar