x

Piala Presiden Madura United Achsanul Qosasi: Merawat Persaudaraan Madura lewat Lapangan Futsal

waktu baca 5 menit
Minggu, 23 Agu 2026 15:00 117 Kamura

Jam 13.48 WIB, Primaraga Hall, Kecamatan Ciputat Timur. Beberapa orang sudah tampak memadati gedung olahraga itu. Mayoritas di antara mereka menggunakan berbagai varian jersey dari tim sepak bola kebanggan orang Madura: Madura United.

Hari itu, Sabtu 22 Agustus 2026, menjadi penanda kompetisi futsal bertajuk Piala Presiden Madura United Achsanul Qosasi akan segera dimulai. Mereka yang memadati Primaraga Hall berkumpul untuk itu.

Delapan tim yang mewakili empat kabupaten asal di Madura, masing-masing kabupaten mengirim dua tim, diisi warga Madura perantauan di Jabodetabek, turun bertanding. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Karsana Muda Madura (Kamura) dan Forum Mahasiswa Madura (Formad).

Silaturahmi yang Melampaui Kompetisi

Achsanul Qosasi, Presiden Madura United, membuka acara dengan menegaskan bahwa semangat kebersamaan semacam ini perlu terus dipupuk. Ia menyebut kompetisi ini melampaui urusan kalah-menang, sebab yang sesungguhnya dirayakan adalah ajang silaturahmi.

“Kompetisi ini melampaui dari urusan kala-menang, tetapi ini adalah ajang silaturahmi. Apol kompol sataretanan,” tuturnya, ketika memberikan sambutan.

Ia menambahkan, latar belakang peserta boleh berbeda, ada yang dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, atau Sumenep, tetapi dalam satu atap bernama olahraga, mereka justru bersatu.

“Itulah yang saya maksud ketika berbicara soal olahraga sepak bola, soal Madura United, bukan hanya sekadar tim sepak bola, sebab ada misi besar yang saya rawat di balik itu, yaitu Madura bersatu. Dari Madura, untuk Indonesia,” tegas Achsanul.

Pada kesempatan lain, Adi Prayitno, pengamat politik nasional asal Sumenep yang turut menjadi peserta, menilai acara ini berjalan mantap dan mampu memperkuat ikatan persaudaraan antarwarga Madura di perantauan. Saat dimintai keterangan oleh Tim Kamura, ia mengatakan bahwa dirinya berharap turnamen futsal ini menjadi agenda rutin.

“Bahkan kalau bisa setahun 3 kali. Biar makin akrab persaudaran di antara taretan dhibi’,” ucap Adi dalam keterangan tertulis, Minggu (23/08/2026).

Dua pernyataan itu, dari Presiden Madura United dan seorang pengamat politik yang kebetulan turut bertanding, menunjukkan satu kesamaan pandangan: kompetisi ini dirancang untuk urusan yang lebih besar dari sekadar rebutan piala.

Dari Gagasan ke Eksekusi

Achmad Tuki, sekretaris Kamura sekaligus inisiator kegiatan, mengatakan gagasan ini lahir dari keyakinan sederhana bahwa olahraga mampu menyatukan orang-orang dengan latar belakang berbeda. Ia menyebut warga Madura di Jabodetabek datang dari berbagai kabupaten dan menekuni profesi yang beragam, mulai dari pedagang kopi keliling, jurnalis, dosen, peneliti, penjaga warung kelontong, hingga penjual sate dan bebek.

Kompetisi futsal, bagi Tuki, menjadi wadah yang mempertemukan seluruh perbedaan itu dalam satu lapangan.

Kegiatan in juga menemukan momentum yang pas. Bulan Agustus, bulan kemerdekaan.

“Itu yang membuat kegiatan ini dikemas sebagai bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81,” jelas Tuki.

Gagasan ini, terang Tuki, semula lahir dari diskusi antara Formad dan Kamura. Barulah setelah itu, sambutan positif datang dari Achsanul Qosasi, yang kemudian menjadi bahan bakar bagi panitia untuk merancang kegiatan ini sebaik mungkin.

Sebagai event perdana, banyak masukan mengalir dari peserta dan senior yang hadir. Tuki menyebut hampir seluruh peserta meminta agar kompetisi ini dilanjutkan setiap tahun, dengan piala utama dijadikan piala bergilir.

Bahkan sebelum Tim Kamura meminta keterangan, Tuki mengaku menerima banyak pesan WhatsApp yang meminta piala utama dirawat baik-baik agar bisa diperebutkan kembali tahun depan.

Permintaan lain datang dari peserta yang berharap kompetisi ini tidak lagi eksklusif bagi tim asal Madura, melainkan terbuka untuk umum. Tuki mengakui banyak tim futsal lain di Jabodetabek yang sebenarnya ingin mendaftar, namun terpaksa urung lantaran kompetisi kali ini masih dibatasi.

Wacana memperluas cakupan peserta itu, menurut Tuki, akan dipertimbangkan lebih masak oleh panitia untuk edisi berikutnya.

Silaturahmi sebagai Fondasi

Moh Sholeh, Ketua Umum Formad, punya penekanan serupa. Ia menyebut konsep kegiatan ini sejak awal dirancang bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan medium untuk merawat kebersamaan warga Madura perantauan.

“Kegiatan futsal ini sebetulnya sengaja kami konsep supaya menjadi event yang seru namun juga menjadi ajang silaturrahmi bagi orang Madura yang ada di Jabodetabek. Konsep inilah yang kemudian melahirkan kolaborasi antara Formad dan Kamura sehingga kegiatan kemarin juga berjalan dengan lancar dan terbilang sukses,” ujar Sholeh.

Karena melibatkan dua organisasi sekaligus, struktur kepanitiaan kegiatan ini pun meluas. Tidak hanya pengurus Formad yang turun tangan, sejumlah senior turut dilibatkan dalam persiapan hingga hari pelaksanaan.

Nama Piala Presiden Madura United Achsanul Qosasi sendiri, menurut Sholeh, lahir setelah melalui beberapa kali rapat internal. Sholeh berharap kompetisi ini menjadi agenda tahunan Formad dan Kamura, dengan orientasi utama tetap pada mempererat hubungan antarwarga Madura di tanah rantau.

Ucapan terima kasih Sholeh secara khusus ditujukan kepada Achsanul Qosasi yang berkenan hadir dan membuka acara secara resmi. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para senior dan seluruh rekan yang berpartisipasi sepanjang hari.

Rentetan Kegiatan

Rangkaian acara berjalan runtut sejak pembukaan. Sambutan pertama disampaikan Moh Sholeh, dilanjutkan sambutan sekaligus kick off seremonial oleh Achsanul Qosasi yang ditandai dengan tendangan bola pembuka. Setelah itu digelar exhibition match, pertandingan persahabatan yang mempertemukan senior-senior yang hadir, sebelum kompetisi inti dimulai.

Kegiatan berlangsung sejak pukul dua siang hingga sebelas malam. Delapan tim dari empat kabupaten turun bertanding: IMS FC dan Starling FC dari Sampang, PMK FC dan KMPJ FC dari Pamekasan, Cerece FC dan Squad Tenaga FC dari Bangkalan, serta Perberoan FC dan Tahu Bulat FC dari Sumenep.

KMPJ FC dari Pamekasan keluar sebagai juara pertama. IMS FC dari Sampang menempati posisi kedua. Squad Tenaga FC dari Bangkalan meraih juara ketiga.

Hingga tengah malam, lampu Primaraga Hall belum sepenuhnya padam. Beberapa peserta masih bertukar cerita, saling menyalami satu sama lain, seolah pertandingan yang baru usai hanyalah pembuka dari pertemuan-pertemuan berikutnya.

Piala bergilir yang diperebutkan hari itu, pada akhirnya, hanya jadi simbol kecil dari sesuatu yang lebih besar: bahwa jarak rantau dari empat kabupaten di Madura, bisa dipertemukan kembali lewat jersey yang sama dan lapangan futsal seluas setengah lapangan sepak bola.

*

Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x