
Sumber gambar: maduraindepth.com KAMURA.id – Musik Saronen mengalun di GOR A. Yani, Sumenep, Minggu pagi (9/8/2026). Di tengah lapangan, sapi-sapi betina melangkah berpasangan dengan balutan pernak-pernik megah, iringan langkah yang selaras seolah telah dilatih bertahun-tahun.
Festival Sapi Sonok Madura 2026 yang digelar Pemkab Sumenep bersama Paguyuban Sapi Sonok Mega Remeng ini bukan sekadar tontonan, tetapi perhelatan itu masuk dalam Calendar of Events unggulan tahun ini, dihadiri Forkopimda, Polresta, Kodim 0827 Sumenep, hingga Kepala Disbudporapar Sumenep sendiri.
Staf Ahli Bupati Sumenep, Hasbul Wathan, yang mewakili Bupati membuka acara secara resmi, menyebut Sape Sonok sebagai identitas dan warisan luhur masyarakat Madura, terutama Sumenep. Di dalamnya, katanya, terkandung nilai estetika, ketekunan peternak, serta wujud cinta pada kearifan lokal.
Kepala Disbudporapar Sumenep, Faruk Hanafi, melengkapi pernyataan itu dengan tiga misi festival: menegaskan status Sapi Sonok sebagai warisan budaya endemik Madura, memberi penghormatan kepada para pemelihara yang setia menjaga tradisi, dan membangkitkan roda ekonomi kerakyatan lewat pelibatan puluhan pelaku UMKM di area festival. Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemkab Sumenep turut menyerahkan bantuan dana stimulan kepada Paguyuban Mega Remeng untuk program pembinaan.
Keterangan di atas menunjukkan satu titik temu bahwa festival ini diposisikan sebagai perayaan budaya sekaligus mesin ekonomi kerakyatan.
Sapi sebagai Bagian dari Struktur Sosial Madura
Sudah menjadi fakta sejarah bahwa sapi memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Madura. Bagi sebagian masyarakat, sapi berkaitan erat dengan struktur sosial, status pemilik, hingga hubungan emosional yang menyerupai relasi keluarga. Tradisi karapan sapi dan sapi sonok tumbuh dari cara pandang tersebut. Seekor sapi dirawat dengan pijat, jamu, dan pola makan khusus karena di balik perawatannya terdapat pertaruhan atas ekonomi, kehormatan, dan juga komunitas.
Penempatan sapi pada posisi yang sedemikian terhormat terbentuk melalui relasi panjang antara manusia Madura dan ternaknya. Sapi kemudian berkembang menjadi simbol kerja keras, kesabaran, sekaligus kemampuan ekonomi sebuah keluarga.
Kondisi sapi kerap menjadi cerminan dari kesungguhan pemiliknya dalam merawat dan memelihara ternak. Dari sini pula kontes seperti sapi sonok menemukan tempatnya. Keindahan fisik dan keselarasan gerak sapi betina dipertunjukkan sebagai hasil dari ketekunan dan dedikasi peternaknya.
Orientasi awal dari festival ini yang sengaja dirancang untuk membangkitkan roda perekonomian dengan memfasilitasi puluhan pelaku UMKM berjualan di area festival, juga menjadi fakta yang memperlihatkan bahwa kehidupan sosial yang tumbuh di sekitar sapi telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang lebih luas.
Peternak, penjual jamu ternak, pelaku UMKM, hingga kelompok kesenian tradisional seperti kleningan dan Saronen ikut mengambil bagian dalam rangkaian pagelaran. Kehadiran mereka membuat festival sapi memiliki fungsi yang berlapis: merawat tradisi sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Mekanisme Seleksi dan Dampaknya pada Kualitas Sapi Madura
Farahdilla Kutsiyah (2022) dalam bukunya yang bertajuk Sapi Sonok & Kerapan Sapi: Budaya Ekonomi Kreatif Masyarakat Madura menjelaskan bahwa kontes sapi sonok terbukti melanggengkan ketersediaan sapi Madura yang unggul lewat dua mekanisme utama. Mekanisme pertama adalah sistem seleksi, yang menilai hasil keturunan, kondisi individu, dan silsilah calon peserta kontes. Mekanisme kedua adalah manajemen pemeliharaan yang cukup optimal, mencakup pakan, jamu, dan pola rawat seperti mandi dan pijat.
Dua mekanisme ini yang membuat sapi sonok berbeda dari sekadar ajang kecantikan. Sistem seleksi memastikan hanya sapi dengan garis keturunan baik yang naik ke arena, sementara pola pemeliharaan intensif menjaga kondisi fisik sapi tetap prima sepanjang masa persiapan. Kombinasi keduanya, secara tidak langsung, berfungsi sebagai semacam program pemuliaan tradisional yang berjalan tanpa perlu campur tangan laboratorium atau balai pembibitan resmi.
Dampaknya terasa pada kualitas sapi Madura secara keseluruhan. Peternak yang ingin sapinya layak tampil di kontes sonok akan terdorong memilih indukan dan pejantan dengan cermat, sesuatu yang pada akhirnya memengaruhi kualitas keturunan yang beredar di masyarakat luas. Praktik perawatan yang biasanya dianggap mewah, seperti pemberian jamu dan pijat rutin, turut menjaga kesehatan sapi dalam jangka panjang. Festival semacam ini, dengan kata lain, menjadi ruang di mana nilai budaya dan kepentingan praktis peternakan bertemu tanpa perlu dipaksakan.
Festival Sapi Sonok Madura 2026 memperlihatkan bahwa warisan leluhur masih dapat menemukan tempat dalam kehidupan masyarakat hari ini. Di dalamnya ada upaya menjaga kualitas dan garis keturunan sapi Madura, ada perputaran ekonomi bagi peternak dan pelaku UMKM, serta ada ruang bagi Saronen dan kleningan untuk terus dimainkan di tengah perubahan zaman. Seleksi yang ketat dan perawatan yang telaten akhirnya memberi makna lebih jauh pada tradisi sapi sonok. Apa yang dirawat hari ini menjadi modal untuk menjaga kualitas sapi Madura pada masa mendatang.
*
Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar