x

Achsanul Qosasi, Generasi Muda, dan Masa Depan Madura

waktu baca 4 menit
Sabtu, 5 Sep 2026 22:19 60 Kamura

KAMURA.id – Kuliah perdana mahasiswa baru di Universitas Bahauddin Mudhary Madura berlangsung Sabtu (05/09/2026). Prof. Dr. H. Achsanul Qosasi menjadi satu narasumber yang memaparkan kuliahnya di hadapan ratusan mahasiswa baru yang baru saja melepas seragam putih abu-abu.

Achsanul membuka kuliah tersebut dengan sebuah proyeksi: dalam dua puluh tahun ke depan, berdasarkan analisisnya, Madura akan bertransformasi. Dari pulau agraris, menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Timur.

Ini bukan pembacaan asal comot. Achsanul menyandarkannya pada cetak biru Kementerian PPN/Bappenas. Di dalamnya ada wacana provinsi Madura tersendiri, kantor perwakilan Bank Indonesia, OJK, sampai Bank Pembangunan Daerah Madura.

Yang membuat proyeksi ini layak dipercaya bukan cuma dokumennya. Tapi juga siapa yang bicara. Semua tahu, Achsanul adalah sosok yang konsisten saat berbicara kemajuan Madura.

Ia sudah puluhan tahun bergerak di sana. Buktinya bisa dilihat dalam berbagai aspek: politik, ekonomi, sosial, dan tentu saja, olahraga. Semua aspek itu disimpul oleh satu kata: Madura.

Konsentrasi yang tak pernah luntur inilah yang membuat pesannya soal masa depan Madura tidak terdengar seperti pembacaan sekilas pejabat lewat sekali kunjungan. Ia tahu betul lika-liku pulau ini, bukan cuma dari data yang berserak di atas kertas.

Kesadaran bukan Kepastian

Namun dalam pemaparannya, Achsanul juga jujur soal syaratnya. Proyeksi dua puluh tahun itu, katanya, bergantung pada kemauan politik. Mulai dari bupati, gubernur, sampai presiden.

“Proyeksi ini turut merujuk pada rencana induk (blueprint) Kementerian PPN/Bappenas yang menempatkan Madura sebagai kawasan pengembangan potensial, termasuk wacana pembentukan provinsi tersendiri yang keputusannya bergantung pada kemauan politik para pemangku kepentingan, mulai dari bupati, gubernur, hingga presiden,” tegas Achsanul.

Kejujuran ini penting. Sebab dua puluh tahun adalah rentang yang panjang. Cukup panjang untuk membuat sebuah cetak biru terlupakan begitu pejabatnya berganti.

Dengan menyebut kemauan politik secara terbuka, Achsanul sedang menanam kesadaran. Bahwa masa depan Madura tidak datang sendiri. Ia harus diperjuangkan, bukan ditunggu. Dia sedang menanam kesadaran, bukan kepastian.

Dari situ, Achsanul masuk ke pesan yang lebih personal untuk mahasiswa. Gelar sarjana saja, katanya, tidak cukup untuk bersaing.

Mahasiswa perlu hard skill sesuai bidang masing-masing. Teknik industri, manajemen, akuntansi, bahasa Inggris. Sertifikasi keahlian pun ia sebut sebagai pembeda penting di tengah ketatnya persaingan kerja.

Bahasa Inggris mendapat perhatian khusus. Achsanul menganjurkan mahasiswa memanfaatkan platform daring untuk berlatih secara mandiri dan konsisten. Kunci membuka peluang global, katanya, ada di situ.

Selain hard skill, Achsanul menekankan soft skill. Jiwa kewirausahaan yang inovatif, kolaboratif, berorientasi proyek. Ia membagikan pengalamannya belajar langsung konsep kewirausahaan sosial dari Muhammad Yunus di Bangladesh.

Satu pesan Achsanul yang paling mengena datang di bagian ini. Hidup, katanya, pada dasarnya adalah proses berjualan. Menjual barang, menjual keahlian, menjual gagasan.

Mahasiswa diminta tidak enggan memasarkan kemampuan sendiri. Bagi Achsanul, itu bagian dari cara bertahan dan berkembang, baik di dunia kerja maupun dunia usaha.

Etos Kerja Orang Madura

Pesan ini terasa pas justru karena bicara ke mahasiswa Madura. Etos dagang orang Madura sudah dikenal luas, jauh sebelum istilah personal branding populer. Dari pedagang sate sampai jaringan toko kelontong yang tersebar ke seluruh Indonesia.

Achsanul, secara tidak langsung, sedang menyambungkan mahasiswa dengan naluri yang sudah ada di keluarga mereka sendiri. Hanya arahnya kini diperluas, tidak sekadar dagang barang, tapi juga keahlian dan gagasan.

Semangat kebersamaan yang ia bawa lewat kisah Madura United pun bukan cerita tempelan. Nilai sportivitas, menghargai kemenangan, menerima kekalahan, adalah pelajaran yang sama pentingnya dengan soliditas antarkabupaten.

Soliditas ini relevan dengan proyeksi di awal kuliah. Kalau kelak wacana provinsi Madura benar terwujud, modal sosial semacam inilah yang dibutuhkan. Rasa satu dalam naungan Madura, bukan empat kabupaten yang jalan sendiri-sendiri.

Semua pesan ini bermuara pada visi yang disampaikan Achsanul di penghujung materi. UNIBA Madura, katanya, mengusung visi “Dari Madura untuk Indonesia”. Misinya, menghadirkan masa depan cerah bagi mahasiswa, tanpa memandang latar belakang ekonomi keluarga.

Penutup acara menghadirkan bukti kecil yang meneguhkan semua pesan itu. Achsanul menyerahkan penghargaan kepada Azimah Syahida Hidayat, mahasiswa Program Studi Bahasa Asing. Azimah baru saja meraih Juara 3 Olimpiade Bahasa Inggris nasional kategori storytelling.

Prestasi ini seperti jawaban langsung atas pesan Achsanul sendiri. Bahasa Inggris sebagai hard skill. Storytelling sebagai cara menjual gagasan lewat kemampuan bercerita.

Kalau resep yang ditawarkan Achsanul sudah punya buktinya sendiri, bahkan sebelum kuliah perdana ini usai, maka layak dikatakan pesannya bukan sekadar pembacaan sepintas. Ia berangkat dari pengalaman panjang, dan sudah menunjukkan hasil di hadapan masyarakat Madura.

*

Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x