x

Dari Pengetahuan Lokal ke Teknologi Geospasial, Inovasi Pertanian Bangkalan Dianggap Layak Jadi Percontohan Nasional

waktu baca 3 menit
Kamis, 25 Jun 2026 13:10 134 Kamura

KAMURA.id –  Pengetahuan lokal yang selama ini hidup di tengah masyarakat dan petani Bangkalan terbukti tidak hanya menjadi sumber informasi lapangan, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang mendapat perhatian pemerintah pusat. Melalui teknologi geospasial yang dikembangkan Dinas Pertanian, Pangan, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Kabupaten Bangkalan, berbagai data pertanian berhasil dipetakan secara lebih akurat sehingga menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pembangunan sektor pertanian.

Inovasi tersebut bahkan dinilai layak menjadi model nasional. Pengakuan itu disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widiastuti, saat menghadiri kegiatan Rembuk Tani bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kecamatan Burneh, Selasa (23/6/2026).

Di hadapan para petani dan pemangku kepentingan sektor pertanian, Widiastuti mengaku terkejut dengan inovasi yang lahir dari Bangkalan tersebut.

“Saya kaget dan sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan DP2KP Kabupaten Bangkalan ini. Baru sekarang saya mengetahuinya dan menurut saya sangat layak dijadikan percontohan bagi kabupaten dan kota lain di Indonesia,” ujarnya.

Teknologi geospasial yang dikembangkan DP2KP Bangkalan memungkinkan pemerintah memperoleh data pertanian secara lebih presisi dan terintegrasi. Informasi mengenai luas lahan, kondisi tanah, pola tanam hingga potensi produktivitas dapat dipetakan secara digital sehingga menggambarkan kondisi riil pertanian di lapangan.

Keberadaan sistem tersebut menjadi penting karena pembangunan pertanian kerap terkendala persoalan validitas data. Melalui pemetaan berbasis geospasial, berbagai pengetahuan yang selama ini dimiliki petani dan masyarakat mengenai karakteristik lahan dapat diidentifikasi, didokumentasikan, dan diterjemahkan menjadi basis pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Dengan dukungan sistem pemetaan digital, pemerintah daerah tidak lagi hanya mengandalkan pendataan manual yang rentan menimbulkan perbedaan informasi. Sebaliknya, seluruh data dapat dipantau secara lebih akurat sehingga memudahkan proses perencanaan maupun evaluasi program pertanian.

Salah satu keunggulan utama sistem tersebut adalah kemampuannya mendeteksi perubahan fungsi lahan secara cepat. Kemampuan itu dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di tengah meningkatnya tekanan alih fungsi lahan akibat pembangunan dan ekspansi kawasan industri.

Kepala DP2KP Kabupaten Bangkalan, Dr. CHK Karyadinata, mengatakan bahwa penerapan teknologi geospasial merupakan bagian dari upaya modernisasi sektor pertanian yang terus didorong pemerintah daerah.

“Keberadaan data yang valid dan terintegrasi menjadi kunci keberhasilan pembangunan sektor pertanian. Dengan sistem geospasial, kita dapat mengetahui kondisi riil di lapangan sehingga kebijakan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan petani,” katanya.

Menurutnya, sistem tersebut memungkinkan pemerintah melakukan pemantauan secara real time terhadap kondisi lahan, distribusi program pertanian, hingga efektivitas berbagai bantuan yang diberikan kepada petani. Dengan demikian, setiap intervensi kebijakan dapat dilakukan secara lebih tepat dan sesuai kebutuhan di lapangan.

Manfaat inovasi tersebut mulai dirasakan petani. Informasi mengenai pola tanam, kebutuhan pupuk, hingga estimasi hasil panen kini dapat dipetakan lebih akurat sehingga membantu meningkatkan efisiensi usaha tani.

Dampaknya terlihat pada peningkatan hasil panen dan kualitas produksi gabah. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga jual gabah di tingkat petani. Jika sebelumnya gabah hanya dihargai sekitar Rp4.500 per kilogram, kini harga jualnya berkisar antara Rp6.500 hingga Rp7.500 per kilogram, tergantung kualitas hasil panen.

Pemerintah pusat yang tengah mengevaluasi berbagai program digitalisasi pertanian menilai inovasi Bangkalan memiliki potensi besar untuk direplikasi secara nasional. Selain meningkatkan akurasi data, sistem tersebut juga dinilai mampu memperkuat strategi pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Rencana menjadikan inovasi tersebut sebagai model nasional disambut positif Pemerintah Kabupaten Bangkalan. Selain menjadi bentuk pengakuan terhadap inovasi daerah, langkah itu juga menunjukkan bahwa solusi pembangunan tidak selalu lahir dari pusat, melainkan dapat tumbuh dari pengalaman, pengetahuan, dan kebutuhan masyarakat di tingkat lokal yang kemudian dikembangkan menjadi sistem yang bermanfaat secara lebih luas. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x