x

Lorjhu’ dan Potensi Skena Musik Madura

waktu baca 4 menit
Jumat, 3 Jul 2026 12:20 109 Kamura

KAMURA.id – Sekali waktu, saya coba mendengarkan lagu Nemor, salah satu single dari grup band rock asal Madura bernama Lorjhu’. Lirik, video klip, dan aransemen musik yang ada di dalam lagu itu seolah membawa saya ke dalam kehidupan para petani garam dan tembakau Madura yang gegap gempita menyambut musim kemarau. Lagu itu kental sekali dengan aroma laut, debur ombak, sapi dan traktor yang berlomba membajak sawah, dilumasi oleh peluh para petani.

Begini penggalan liriknya:

Terakna langi’, lebat gilinah pello

Mesemma tani, berkat ollena bakho

Nyonarah Areh, nga-mera deri temor

Senengnya ateh, bile masok mosem nemor

Arosah ombek, nyeser depak ka palo

Du e be’ ambe’, se senengah se nyolo

Nase bujhe cabhhi, akoa ghangan marongghi

Buje na daddhi, Epolong melle kalambi

Setelah mendapat impresi kagum pasca mendengar lagu itu, saya justru ingin merekomendasikannya pada generasi muda Madura untuk menengok beberapa single dari album Parenduan karya Lorjhu’. Nuansa Pulau Garam terpacak dalam lagu-lagu mereka. Isu, tema, nada, fashion, lirik, dan semuanya, Lorjhu’ menyajikannya dengan indah.

Dalam beberapa keterangan wawancara, Badrus Zeman (vokalis sekaligus gitaris) menyebut bahwa mula-mula ini adalah proyek personal, cara dia mengeja kembali bahasa ibunya sendiri, Bahasa Madura. Proyek itu berdiri sejak 2019, sebelum akhirnya pada 2022 Lorjhu’ hadir sebagai format band penuh, dengan tambahan Insan Negara (bas) dan Gaharaiden Soetansyah (drum), dan merilis album pertama bertajuk Paseser. Formasi ini, berdasarkan keterangan yang saya baca, masih bertahan sampai hari ini.

Jika kita mendengar lagu berjudul Parenduan dalam album kedua yang rilis pada 30 Agustus 2023 itu, kita bisa membaca betapa dekat Manusia Madura dengan reng alem (kiai, ustadz, cerdik cendikia), atau bagaimana mereka memposisikan akhlak sebagai wujud kecerdasan paling tinggi.

Nama “Parenduan” sendiri diambil dari nama sebuah dusun tempat Badrus lahir dan besar, dari kata dasar arenduh yang berarti bersimpuh atau rehat sejenak. Album berisi sembilan lagu ini digarap lebih serius dibanding album pertama yang direkam swadaya lewat ponsel. Kali ini Lorjhu’ masuk studio bersama produser Reza Hilmawan, melibatkan musisi Madura lain seperti Rifan Khoridi dan Johariyadi, dengan sampul yang dilukis manual oleh perupa Enka Komariah.

Menuju Kancah Nasional dan Internasional

Lorjhu’ tidak melihat atau berpretensi bahwa budaya Madura lebih luhung dari yang lain, lebih superior dari yang lain, mereka hanya ingin menyuguhkan pada khalayak bahwa Madura menyediakan banyak hal yang menarik. Dan itu mereka alih wacanakan menjadi lagu-lagu yang telah mengantarkan mereka pada kolaborasi bersama musisi dan band pop, serta panggung-panggung yang sebelumnya tidak lazim disinggahi musik berbahasa Madura.

Salah satu titik yang menandai itu adalah Synchronize Fest 2023, saat Lorjhu’ tampil sebagai headliner dan untuk pertama kalinya membawakan seluruh set list album Parenduan secara langsung. Dua tahun berselang, mereka justru membuka hari kedua BRI Jazz Gunung Series 2 di Bromo, 26 Juli 2025, di antara nama-nama seperti Sal Priadi dan Monita Tahalea. Ini panggung jazz, bukan rock, dan Lorjhu’ tampil dengan distorsi gitar serta lirik bahasa Madura yang jarang ditemui di sana. Badrus menyebut kehadiran mereka di Jazz Gunung sebagai cara menyampaikan pesan bahwa Madura harus bisa bersaing di industri musik Indonesia.

Panggung yang lebih jauh datang pada 7 September 2024, ketika Lorjhu’ diundang tampil di DBS Foundation Outdoor Theatre, Esplanade, Singapura, dalam tiga sesi berbeda, membawakan lagu-lagu dari album Paseser dan Parenduan.

Petikan gitar yang melengking, ketukan drum yang menggema, dan betotan bas yang sangar, justru membuat lagu-lagu Lorjhu’ dapat diterima oleh pendengar musik Indonesia, bahkan lintas negara. Bukan sekali dua Lorjhu’ manggung di pentas nasional maupun internasional. Dan ini membuktikan bahwa budaya Madura akan selalu match dengan khalayak jika dikemas dengan serius dan elegan.

Apa yang dilakukan oleh Lorjhu’ dapat menjadi contoh konkret bagi kita, atau utamanya Pemerintah Daerah, bahwa Madura memiliki karakteristik yang khas dan tidak mungkin ada di tempat lain. Kekhasan ini mestinya dapat menjadi potensi bagi daerah. Musik, lirik, puisi, tarian, dan segala jenis kecerdasan yang mencuat dari rahim kebudayaan, mestinya mampu melewati batas-batas wilayah.

Lorjhu’ telah membuktikannya, dari amfiteater di ketinggian 2.000 meter di Bromo sampai panggung seni pertunjukan nasional Singapura.

Badrus dalam salah satu wawancara mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki kekhawatiran bahwa lagu-lagu yang Lorjhu’ ciptakan justru tidak diterima oleh khalayak, apalagi sampai pada tahap penolakan. Dia meyakini bahwa apa yang dikerjakan oleh rasa, selamanya akan sampai dan bisa dinikmati oleh manusia yang punya rasa. Persis seperti saat kita menikmati lagu-lagu India tanpa terlebih dahulu mengerti bahasa India.

Barangkali di situlah letak pelajaran yang sesungguhnya. Lorjhu’ tidak menerjemahkan Madura supaya lebih mudah dicerna orang luar. Mereka membiarkan Madura tetap berbicara dengan bahasanya sendiri, dan justru dari situ pintu-pintu terbuka satu per satu, dari studio rekaman swadaya di Sumenep sampai amfiteater di Bromo dan panggung di Marina Bay. Yang dibutuhkan bukan penyesuaian, melainkan keseriusan.

*

Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x