x

Ekonomi Kepercayaan di Balik Fenomena Warung Madura

waktu baca 4 menit
Senin, 6 Jul 2026 16:57 111 Kamura

KAMURA.id – Merebaknya Warung Madura yang saat ini menjadi fenomena nasional, telah menarik beberapa peneliti untuk mengkajinya dalam kerangka akademik. Hidayat dkk. (2020) melalui penelitiannya yang bertajuk Migrant traders, social capital, and the politics of local wisdom: A descriptive study of Warung Madura networks in Jakarta, Indonesia adalah salah satu contoh upaya itu. 

Riset ini membawa satu premis bahwa keberlangsungan Warung Madura di Jakarta tidak terutama ditentukan oleh besarnya modal finansial, melainkan oleh modal sosial: jaringan etnis, norma bersama, dan kepercayaan antar sesama perantau.

Premis itu berlawanan dengan kajian bisnis konvensional, di mana pertumbuhan usaha dijelaskan hanya lewat tiga unsur: modal, teknologi, dan pasar. Model bisnis yang dipakai di Warung Madura justru melampaui itu.

Temuan yang disuguhkan oleh riset tersebut akan lebih tampak saat kita melihat bagaimana sistem ini bekerja. Bayangkan begini: di setiap Warung Madura yang menjamur itu, pemiliknya orang Madura, pegawainya kerabat sendiri, dan tidak ada satu pun dari mereka yang membawa proposal bisnis atau surat izin dari kantor pusat. Memang, tidak ada istilah kantor pusat. Yang ada hanya jaringan keluarga yang entah bagaimana bisa mereplikasi model usaha yang sama, di kota yang sama, ribuan kali.

Fenomena ini sering dibaca sebagai cerita tentang keuletan atau etos kerja. Saya kira bacaan itu separuh benar. Sebab yang lebih dalam, apa yang sedang bekerja di balik warung-warung itu adalah sebuah sistem ekonomi yang jarang kita akui sebagai sistem. Kita bisa menyebutnya sebagai ekonomi kepercayaan.

Trust sebagai Basis Ekonomi

Di sekolah bisnis, ada ajaran mendasar bahwa perusahaan tumbuh karena suntikan modal. Di banyak komunitas Madura, usaha justru tumbuh karena nama keluarga. Sebelum ada kontrak, sudah ada kepercayaan. Sebelum ada investor, sudah ada jaringan kerabat yang bersedia menanggung risiko bersama.

Kepercayaan, dalam kerangka ekonomi kelembagaan yang dikembangkan Douglass North dan Oliver Williamson, punya fungsi yang sangat konkret: menurunkan biaya transaksi. Ketika kepercayaan tipis, orang butuh kontrak, notaris, jaminan, dan pengawasan berlapis untuk memastikan kesepakatan ditepati. Semua itu berbiaya. Ketika kepercayaan tebal, biaya-biaya itu nyaris menguap. Temuan Hidayat memvalidasi teori ini, keberhasilan sebagian usaha orang Madura bukan lahir dari modal yang besar, tetapi dari biaya transaksi sosial yang kecil.

Keluarga, dalam konteks ini, bukan sekadar unit privat yang berdiri di luar ekonomi. Ia menjalankan fungsi yang biasanya kita serahkan pada lembaga formal. Keluarga menjadi tempat meminjam modal tanpa bunga bank, tempat mencari pekerjaan tanpa proses rekrutmen, tempat berbagi informasi pasar, tempat magang tanpa kontrak kerja, bahkan tempat berlindung ketika usaha merugi. Institusi ekonomi pertama, bagi banyak keluarga Madura, bukan bank. Institusi ekonomi pertama adalah keluarga itu sendiri.

Maka pertanyaan yang lebih menarik bukan soal berapa banyak Warung Madura yang berdiri, melainkan mengapa pola usahanya bisa begitu seragam tanpa ada satu perusahaan induk yang mengaturnya. Tidak ada PT Warung Madura Indonesia, misalnya. Tidak ada waralaba resmi. Tetapi ribuan warung tetap tumbuh dengan wajah yang mirip, seolah mengikuti sebuah sistem operasi yang tidak tertulis di mana pun. Sistem operasi itu tersusun dari kepercayaan, norma bersama, solidaritas, dan reputasi yang dijaga ketat oleh setiap individu, sebab nama keluarga dipertaruhkan setiap kali seseorang membuka usaha baru.

Dari Warung ke Logika Perantau

Logika yang sama tidak berhenti di warung. Ia hidup pula dalam jaringan perantau Madura di berbagai daerah, dalam perdagangan sapi, dalam distribusi garam antarpulau, dan dalam relasi patronase antara kiai dan santri yang kerap menjadi simpul bagi modal dan informasi bergerak dari satu daerah ke daerah lain.

Negara, sayangnya, jarang membaca fenomena ini dengan kerangka yang tepat. Kebijakan ekonomi untuk masyarakat kecil hampir selalu berbentuk kredit, bantuan, atau subsidi. Semua itu penting, tetapi semua itu mengasumsikan bahwa yang kurang adalah uang. Padahal yang menopang keberlangsungan usaha rakyat Madura selama ini adalah sesuatu yang tidak pernah masuk neraca: kepercayaan yang dijaga lintas generasi.

Ketika modal sosial ini rusak, entah karena migrasi yang terlalu cepat atau karena putusnya rantai kekerabatan, uang sebanyak apa pun sering gagal menciptakan ekonomi yang bertahan lama.

Bagi saya, ini yang membuat fenomena Warung Madura layak dibaca ulang. Bukan sebagai contoh keuletan etnis tertentu, melainkan sebagai contoh bahwa ekonomi, dalam pengertian yang paling mendasar, bukan pertama-tama soal akumulasi modal. Ekonomi adalah soal pemeliharaan relasi. Keuntungan tetap penting, tetapi ia hanya bisa dicapai selama jaringan kepercayaan itu terus dirawat.

Orang Madura mungkin tidak memiliki konglomerasi besar. Tetapi mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih sulit dibangun: ekosistem kepercayaan yang memungkinkan modal, tenaga kerja, dan peluang usaha berpindah tangan tanpa birokrasi rumit. Itu bukan kebetulan sejarah. Itu adalah sebuah cara memahami ekonomi yang selama ini belum benar-benar kita akui punya nama.

*

Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x