
Sumber Gambar: Tribun Madura KAMURA.id – Rabu petang, 22 Juli 2026, sebuah gudang reparasi mobil di Desa Kramat, Kecamatan Kota, dilalap api. Di hari yang sama, itu bukanlah kejadian yang pertama. Sejak siang, tim Pemadam Kebakaran Satpol PP Bangkalan sudah bolak-balik menangani tiga titik kebakaran lain: lahan rerumputan di Kelurahan Mlajah, rumpun bambu di Desa Padurungan, dan lahan kosong seluas dua hektare di kawasan Tanean Lanjeng, tepat di akses Suramadu arah Surabaya menuju Bangkalan.
Empat kebakaran dalam satu hari. Itu bukan kebetulan, melainkan gejala dari sesuatu yang lebih besar sedang berlangsung di Bangkalan: ancaman krisis kemarau panjang.
Kasi Penyelamatan Damkar Satpol PP Bangkalan, Ortiz Iskandar, menjelaskan bahwa kebakaran di kawasan Suramadu itu sempat membuat warga panik.
“Tidak ada korban, namun terbakarnya lahan seluas sekitar dua hektar di akses Suramadu itu sempat membuat warga sekitar panik karena kobaran api dengan cepat merambat dan meluas,” katanya, Rabu (22/7/2026).
Petugas butuh sekitar satu jam dan dua armada pemadam untuk menjinakkan api di lahan yang menyerupai savana tersebut.
Ortiz menduga tiga dari empat kebakaran itu dipicu aktivitas membakar sampah yang ditinggalkan tanpa pengawasan. Satu lainnya, di gudang reparasi mobil, disebabkan tumpahan solar.
Ia meminta warga tidak meninggalkan lokasi saat membakar sampah, sebab cuaca panas yang disertai angin kencang membuat api menjalar jauh lebih cepat dari biasanya. Hingga pekan ketiga Juli, sudah sembilan kali kejadian kebakaran tercatat di Bangkalan.
Angka itu punya rangkaiannya sendiri. Ia adalah gejala permukaan dari krisis yang jauh lebih dalam: kekeringan panjang yang sedang mencekik Bangkalan dari berbagai penjuru.
Bangkalan telah melewati 21 hari tanpa hujan. BMKG memprediksi kondisi ini akan berlangsung hingga akhir Agustus. Rumput kering, lahan kosong, dan tanah yang mengeras menjadi bahan bakar yang sempurna untuk api yang mudah tersulut hanya dari puntung rokok atau sisa bakaran sampah. Dan ancaman yang lebih mendesak adalah ini: sumur-sumur yang mulai kering.
Sumur yang Mengering, Warga yang Bertahan
Data BPBD Kabupaten Bangkalan mencatat 27 desa di 10 kecamatan terdampak kekeringan, dengan 15.789 keluarga kesulitan air bersih. Sebagian bahkan terpaksa membeli air seharga Rp 250.000 per tangki berisi 5.000 liter, sebuah angka yang tidak kecil bagi warga desa yang sebagian besar menggantungkan hidup dari hasil tani dan ternak.
Syamsiah, warga Desa Batangan, Kecamatan Tanah Merah, sebagaimana dilansir dari Kompas.com, menuturkan bahwa sumur dan mata air di desanya sudah surut sejak sebulan terakhir.
“Sudah surut semua. Kalau untuk konsumsi, kita cari sampai ke luar desa. Karena di desa lain ada sumur yang masih ada airnya, tapi kalau kemarau begini ya antre sama warga lain juga. Kalau bantuan kadang harus nunggu sebulan. Tapi ya tetap kita tunggu karena butuh. Jadi sambil menunggu itu ya kita cari air di sekitar. Kalau yang mampu ya beli,” ujarnya, Kamis (23/07/2026).
Upaya mandiri seperti pengeboran sumur pun tak banyak menolong. Air tanah ikut menyusut ketika kemarau memuncak, sehingga sumur bor yang sudah dibangun warga tetap tidak mampu memenuhi kebutuhan harian secara stabil.
Laporan Kompas juga menyebutkan bahwa Di Desa Pangeleyan, salah satu warga bernama Habiba mesti menempuh jarak jauh ke perbatasan desa hanya untuk mengambil air dari sumur yang masih berair.
Ia juga membeli air tangki secara patungan dengan saudara, lalu menyimpannya di tandon untuk keperluan mencuci dan memasak. Air minum, katanya, ia beli terpisah dalam bentuk galon.
Pola serupa terjadi di berbagai kecamatan lain. Data permohonan air bersih per 3 Juli 2026 mencatat 22.677 KK terdampak di empat kecamatan, dengan Kecamatan Kokop menjadi wilayah paling parah, mencakup 11 desa dengan total belasan ribu keluarga membutuhkan pasokan air.
Meski BPBD telah mendistribusikan 300 ton liter air bersih ke 20 desa awal Juli lalu, sejumlah desa di Kecamatan Blega, Tanah Merah, dan Sepulu kembali mengusulkan droping tambahan karena persediaan menipis.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bangkalan, Arif Rachman Surya Atmaja, menyebut pihaknya mengoperasikan dua unit truk tangki setiap hari secara bergiliran, menyesuaikan permintaan dari kecamatan. Distribusi berjalan setiap Senin hingga Kamis, namun kapasitas itu jelas belum sebanding dengan luas dan jumlah desa yang membutuhkan.
Problem yang Saling Berkelindan
Di titik inilah dua persoalan yang tampak terpisah, kebakaran dan kekeringan, sesungguhnya berasal dari akar yang sama. Cuaca ekstrem yang memicu api dengan cepat merambat adalah cuaca yang sama yang mengeringkan sumur-sumur warga. Angin kencang yang memperbesar risiko kebakaran adalah bagian dari pola iklim yang sama yang membuat BMKG memprediksi kemarau berkepanjangan hingga Agustus.
Warga di lapangan sudah lebih dulu merasakannya, jauh sebelum data resmi menyusul. Banyak di antara warga yang khawatir jika kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya, maka kondisi itu akan terus merongrong sumur-sumur di desanya yang saat ini masih relatif aman. Faktanya, banyak desa yang berpotensi menyusul terdampak, dari Kelbung hingga Kalabetan.
Bangkalan sedang berdiri di titik silang dua krisis yang berjalan beriringan. Bukan hanya soal air yang menipis, tapi juga soal risiko yang membesar di lahan-lahan kering yang menunggu percikan kecil untuk berubah menjadi bencana.
Penanganan darurat seperti droping air dan pemadaman kebakaran memang perlu, tapi keduanya hanya menjawab gejala. Akar persoalannya, cuaca ekstrem yang berulang setiap tahun, membutuhkan langkah yang lebih jauh dari sekadar tangki air dan mobil pemadam.
*
Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar