
Sumber gambar: Radar Madura KAMURA.id – Lanskap pertanian di Bangkalan tahun ini mengalami perubahan. Lahan yang biasanya dibiarkan menganggur setelah dua kali panen padi, kini mulai ditanami tembakau.
Dilansir dari Radar Madura, dua orang petani asal Blega bernama Sunari dan Ansori, menceritakan bagaimana tanah kosong itu akhirnya kembali menghasilkan begitu ada yang mencoba menanam tembakau, dan harganya ternyata cukup menjanjikan. Keduanya menilai tembakau bisa menjadi penopang ekonomi warga jika dikelola dengan baik.
Fenomena ini menarik karena selama ini tembakau identik dengan Pamekasan dan Sumenep, dua kabupaten yang selama puluhan tahun menjadi basis utama petani tembakau di Madura. Bangkalan jarang disebut dalam pembicaraan itu.
Tahun ini, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Bangkalan, Mohammad Sugianto, menegaskan komitmennya mendorong lebih banyak petani menanam tembakau, lengkap dengan janji pendampingan dan advokasi bila petani kesulitan dalam budi daya maupun pascapanen. Ia melihat tembakau berpotensi menjadi komoditas unggulan baru di Bangkalan, asalkan didukung kebijakan yang berpihak pada petani dan sistem pemasaran yang transparan.
Baris terakhir dalam pernyataan itu perlu digarisbawahi: asalkan didukung kebijakan. Sebab optimisme di lahan kering Bangkalan ini sesungguhnya sedang menyentuh persoalan yang jauh lebih besar dan belum juga tuntas, yaitu nasib Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau Madura sebagai tiang sangga industri tembakau di Madura.
Quo Vadis, KEK Tembakau?
Isu ini rupanya tidak hanya bergema di ladang. Dalam Pelantikan Raya Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura periode 2026-2027, ratusan mahasiswa disuguhi pemutaran video berjudul “Tembakau Madura: Sejarah, Ketidakadilan, dan Jalan Kebijakan Baru,” produksi Komunitas Muda Madura (KAMURA).
Presiden Mahasiswa Uniba Madura, Moh. Iskil El Fatih, menegaskan bahwa pemutaran video itu bukan sekadar pembuka seremonial, melainkan ajakan agar mahasiswa memiliki kepedulian terhadap persoalan daerah dan mengambil peran aktif dalam mendorong KEK Tembakau sebagai gagasan besar bagi masa depan Madura.
Pilihan tema ini masuk akal jika dilihat dari konteks yang lebih luas. Semakin banyak petani, termasuk yang baru mulai seperti di Bangkalan, menaruh harapan pada tembakau sebagai penopang ekonomi. Tetapi harapan itu bertumpu pada sesuatu yang rapuh: harga yang fluktuatif, tata niaga yang timpang, dan ketiadaan kepastian kebijakan dari negara.
Perjuangan KEK Tembakau Madura sebetulnya sudah melewati tahapan yang tidak sederhana. Naskah akademik disusun KAMURA berdasarkan survei lapangan dan pemetaan rantai nilai industri tembakau. Seluruh bupati se-Madura kompak menandatangani Surat Bersama yang meminta Gubernur Jawa Timur mengusulkan KEK ini ke pemerintah pusat.
Gubernur Khofifah Indar Parawansa pun menyatakan kesiapannya menjadi pengusul resmi dan memperjuangkannya sampai tuntas, sementara Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak ditugaskan mendalami aspek teknokratis dan administratifnya.
Namun usulan KEK Tembakau Madura, entah bagaimana, masih jalan di tempat. Tidak ada kabar yang terang. Beberapa alasan yang sayup terdengar adalah KEK Tembakau masih memerlukan proses serta pendalaman lebih lanjut.
Kalimat ini sejatinya masih bersayap dan sukar diterka. Hanya saja, kondisi hari ini dapat direduksi menjadi demikian: dukungan politik di level daerah sudah bulat. Yang belum selesai adalah kesediaan negara untuk menindaklanjutinya menjadi kebijakan yang mengikat.
Menanam di Tengah Ketidakpastian
Situasi inilah yang membuat kegembiraan petani Bangkalan terasa ganjil sekaligus rentan. Mereka menanam tembakau di lahan yang sebelumnya menganggur, berharap komoditas ini bisa menjadi penopang kesejahteraan di musim kemarau.
Tetapi tanpa kebijakan seperti KEK yang mampu memperbaiki tata niaga dan memberi kepastian harga, harapan itu berisiko berulang menjadi pola lama: harga anjlok begitu panen raya tiba, dan petani kembali bergantung pada tengkulak.
Semangat mahasiswa Uniba mengangkat isu ini dalam pelantikan mereka barangkali menunjukkan sesuatu yang penting, bahwa kesadaran atas persoalan tembakau terus diwariskan ke generasi baru. Walaupun semangat itu juga mengingatkan bahwa perjuangan yang seharusnya sudah menemukan jalan keluar, kini masih harus dijaga tetap hidup oleh mahasiswa dan petani, karena di meja para pengambil kebijakan pusat, ia masih berhenti sebagai kajian yang belum tuntas.
*
Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar