
Sumber gambar: Arsip KAMURA KAMURA.id – Di pematang tegal miliknya, Moh Ikhsan (51) punya cara sendiri memperlakukan tanaman tembakau yang belum sepenuhnya tegak.
Saat dirinya terpaksa menyemprot obat kimia demi melawan gulma, tak lupa ia menyelipkan doa. Doa berupa niat bahwa kerja kerasnya hari itu, ia persembahkan untuk dua anaknya yang sedang menempuh pendidikan S1 dan S2. Rumput yang layu dan kemudian mati, katanya, ia niatkan sebagai sedekah kepada tembakau yang tengah ia rawat.
“Petani itu merawat tanamannya, termasuk tembakau, seperti anak sendiri, Mas. Bahkan ada beberapa kenalan saya, termasuk guru-guru saya, yang tidak membolehkan mematikan tanaman dengan cara obat, karena tanaman itu mendoakan kita,” jelas Ikhsan saat diwawancara oleh Kamura, Kamis (17/07/2026).
Cara pandang ini bukan sekadar sentimentalitas petani. Ikhsan mendapatkannya dari ajaran gurunya semasa mondok dulu: pantang mematikan tanaman dengan bahan kimia, sebab tanaman itu turut mendoakan yang merawatnya. Tembakau, dalam logika ini, bukan komoditas yang tinggal dipanen dan dijual, melainkan makhluk yang dirawat seperti anak sendiri.
Tahun ini Ikhsan menanam 6.000 bibit di satu tegal. Ia membeli belta, sebutan Madura untuk bibit tembakau, dengan harga 50 ribu per seribu batang.
Tetangganya yang menanam lebih awal harus merogoh 100 ribu untuk jumlah yang sama. Selisih harga sejauh itu, di tingkat petani kecil, sudah cukup menentukan margin bahkan sebelum musim tanam benar-benar dimulai.
Umur tanaman miliknya baru 22 hari saat ditemui. Bibit yang ditanam di Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, ini berbeda dari sekitar satu atau dua dasawarsa lalu.
Ikhsan masih ingat, di tahun 1998, tahun ketika ia gencar-gencarnya menanam tembakau, bibit yang dipakai adalah varietas Cangkreng.
Pergeseran varietas ini punya dua sisi dampak. Jumlah daun yang tumbuh sekarang mencapai 45 helai, jauh lebih banyak dibanding dulu yang hanya berkisar 22 sampai 25 daun di usia serupa. Selain faktor varietas, Ikhsan menyebut cuaca juga ikut berperan.
Tapi bibit baru yang memberi kuantitas daun lebih banyak, belum tentu berbanding lurus dengan kualitas tembakaunya. Ada aroma, cita rasa, dan kenikmatan yang berbeda. Kendati secara kuantitas lebih subur, Ikhsan sendiri belum berani memastikan apakah pertumbuhan ini akan berbanding lurus dengan harga jual nanti.
Menghitung Ulang Ongkos Tanam
Cerita berbeda datang dari Hay (37), seorang ibu rumah tangga yang sekaligus petani tembakau dari Desa Batukerbuy, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan. Dibandingkan Ikhsan, dia menggarap lahan lebih luas, sekitar tiga tegal atau seperempat hektare, dengan total 10.000 bibit. Harga bibit yang ia beli berkisar 50 hingga 60 ribu per seribu batang, tidak jauh berbeda dari yang dibayar Ikhsan.

Sumber gambar: Arsip KAMURA
Rincian biaya yang ia sebutkan cukup rinci: sewa traktor 200 ribu, upah mencangkul untuk empat orang 250 ribu ditambah rokok, obat gulma pratanam 100 ribu, pupuk urea dan phonska 250 ribu, serta pupuk ZA seberat 50 kilogram senilai 450 ribu setelah dipotong bunga atau tokok.
Angka-angka ini belum termasuk biaya listrik, dan berlaku untuk musim tanam lanjutan, bukan tanam perdana yang biasanya membutuhkan ongkos lebih besar.
Hay sempat berhenti menanam tembakau sejak akhir 2016, dan baru kembali menekuninya pada 2021, bertepatan dengan masa pandemi. Dua hal ia sebut sebagai alasan jeda panjang itu: usia petani di sekitarnya yang kian menua tanpa regenerasi dari generasi muda, dan harga tembakau yang tidak kunjung stabil.
“Untuk keputusan nanam tembakau, dulu sih 2016 akhir sudah berhenti. 2021 mulai nanam lagi. Kalau tidak salah waktu Covid, waktu itu. Faktornya kenapa tidak nanam ada beberapa. Dulu masyarakat sekitar sini banyak petaninya sudah tua. Yang muda-muda belum ada yang pengen jadi petani. Jadi faktor usia. Faktor keduanya adalah harga tidak stabil,” ucap Hay saat diwawancara oleh Kamura, Sabtu (18/07/2026).
Perbandingan harga antara 2024 dan 2025 masih ia ingat dengan jelas. Tahun 2024, kualitas tembakau lebih baik dan harga maksimal bisa mencapai 70 hingga 75 ribu. Tahun 2025, meski curah hujan lebih sering turun, harga di kawasan Pasean, tepatnya Batu Kerbuy dan Dempo Barat, berkisar antara 40 ribu hingga 65 ribu.
Hay juga membandingkan perbedaan cara petik di daerahnya dengan Sumenep. Di Pasean, daun dipetik tiga kali secara bertahap, berbeda dengan sistem sekali petik yang lazim di Sumenep, sebagaimana di daerah Lenteng Timur.
Sistem penyiraman yang ia terapkan disesuaikan dengan kondisi tanah dan jumlah anggota keluarga yang membantu. Alih-alih menanam 10.000 bibit sekaligus, ia membaginya menjadi dua atau tiga tahap, misalnya 5.000 batang lebih dulu, disusul 5.000 berikutnya setelah tanaman pertama cukup besar.
Cara ini membuat penyiraman bisa dilakukan bergantian setiap hari, bukan menyiram seluruh lahan sekaligus. Keluarga dengan anggota lebih banyak biasanya sanggup menanam hingga 100.000 bibit dalam satu waktu, sementara keluarga Hay yang hanya beranggotakan dua orang aktif bertani memilih pola bertahap.
Kondisi tanah di Pasean yang cenderung kering membuat penyiraman harian menjadi keharusan, bukan pilihan. Musim kemarau panjang tahun ini justru disebutnya mendukung pertumbuhan optimal, ironi kecil di tengah tantangan air yang selama ini jadi momok petani di kawasan tersebut.
Dari keluarga Hay yang beranggotakan lima orang, hanya dua yang aktif bertani: Hay sendiri, 37 tahun dengan latar pendidikan SMP, dan suaminya, 42 tahun lulusan SD. Anak sulung berusia 19 tahun baru lulus SMA, dua adiknya masih berusia 12 dan 6 tahun.
Data kecil ini menyingkap sesuatu yang lebih besar: regenerasi petani tembakau di Pasean berjalan lambat, dan pendidikan formal keluarga tani jarang berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi.
Dua Kisah, Satu Kegelisahan
Ikhsan dan Hay bertani di kantong produksi yang berbeda, dengan skala lahan dan pola tanam yang tidak sama persis. Tapi keduanya punya keinginan yang sederhana saja: bukan harga yang mahal, melainkan harga yang stabil.
Meski cuaca tahun ini mendukung pertumbuhan, Ikhsan tidak lantas optimistis harga akan lebih baik dari tahun sebelumnya.
“Tahun ini cuaca sih mendukung, Mas, walaupun belum ada jaminan kalau harga akan lebih mahal dari tahun sebelumnya. Padahal keinginan petani sederhana saja: harga yang stabil. Bukan mahal yang mahal banget, tetapi kestabilan,” tutur Ikhsan.
Hay punya cara sendiri menyampaikan kegelisahan serupa, meski dengan nada yang lebih pasrah.
“Kalau ditanya harapan, saya bingung juga. Maksudnya gatau harus berharap ke siapa. Saya dan keluarga nanam ya nanam saja. Paling-paling harapan kami ya supaya dapat untung atau paling tidak, tidak rugi aja gitu. Ya, tembakau ini untuk menghidupi keluarga lah intinya, gitu,” katanya.
Kebingungan Hay soal ke mana harus menaruh harapan ini bukan tanda ia tidak peduli pada nasibnya sendiri. Justru sebaliknya. Ia menyiratkan bahwa dalam rantai tata niaga tembakau, petani seperti dirinya tidak pernah tahu siapa yang sesungguhnya berkuasa atas harga: gudang, tengkulak, atau kebijakan yang entah dari mana asalnya. Maka yang tersisa hanya kerja itu sendiri, tanpa jaminan bahwa kerja itu akan berbuah setimpal.
Dari isu yang beredar, di beberapa daerah yang sudah mulai panen, daun bawah dibanderol 50 ribu, angka yang belum tentu bertahan hingga panen raya tiba.
Ikhsan meyakini, selama sistem tata niaga tembakau belum berubah, petani tidak akan pernah punya kuasa untuk menentukan harga sendiri.
“Kalau masih belum ada kejelasan secara peraturan atau inisiasi dari gudang (pabrik, Red.) ya pasti tetap susah, Mas. Gak bakal bisa nentuin harga sendiri,” pungkas Ikhsan.
Ucapan ini bukan keluhan sesaat. Ia lahir dari pengalaman bertahun-tahun menyaksikan harga ditentukan sepenuhnya oleh pembeli, sementara petani hanya bisa menerima angka yang disodorkan setelah bulan-bulan merawat tanaman dari bibit sampai daun siap petik.
Kegelisahan Ikhsan dan Hay, meski diucapkan dengan cara berbeda, bermuara pada titik yang serupa: ketidakpastian harga yang terus membayangi setiap musim tanam, tidak peduli seberapa baik cuaca atau seberapa subur daun yang tumbuh.
Ikhsan merawat tembakaunya dengan doa. Hay menghitung ongkosnya sampai ke rincian pupuk dan upah cangkul, sembari tidak tahu lagi harus menaruh harap kepada siapa. Namun keduanya sama-sama tidak punya kendali atas angka yang akan tertera di kertas timbangan pembeli nanti. Selama sistem tata niaga tembakau belum berubah, sistem itu tidak boleh dibiarkan seolah wajar, sementara petani hanya diminta pasrah menerima harga yang ditentukan pihak lain.
*
Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar