x

Panggung Budaya Madura 2025 di Sampang dan Upaya Membaca Madura Hari Ini

waktu baca 4 menit
Kamis, 18 Des 2025 14:05 205 Kamura

KAMURA.id – Stigma tentang Madura sebagai daerah miskin, tertinggal, dan minim peluang, sejatinya tidak lebih dari simplifikasi. Sebab, jika ditelisik lebih jujur, yang terjadi bukanlah ketiadaan potensi, melainkan kegagalan mengelolanya secara serius dan berkelanjutan. Panggung Budaya Madura ke-3 Tahun 2025 yang digelar Pemerintah Kabupaten Sampang di Alun-alun Trunojoyo, Sabtu (13/12/2025), justru menjadi cermin yang terang untuk membaca paradoks itu: Madura kaya akan sumber daya budaya, kuliner, dan komoditas unggulan, tetapi miskin dalam tata kelola ekonomi yang mampu menahan warganya tetap hidup layak di tanah sendiri.

Antusiasme ribuan masyarakat yang memadati panggung budaya tersebut bukan sekadar euforia hiburan. Ia adalah penanda bahwa kebudayaan Madura masih hidup, berakar kuat, dan memiliki daya tarik publik yang besar. Daul Semut Ireng, Tari Topeng Gethak, Samman Al-Madani, hingga harmoni etnik modern bukan hanya ekspresi artistik, tetapi modal sosial dan ekonomi yang sangat mungkin dikembangkan menjadi industri kebudayaan. Namun selama ini, kebudayaan Madura kerap diposisikan sebatas seremoni: hadir saat perayaan, menghilang setelah panggung dibongkar.

Adalah Bupati Sampang, H. Slamet Junaidi, salah satu tokoh di Madura yang mencoba melihat ini sebagai potensi. Hal ini termaktub dalam keinginannya untuk mem-branding Sampang sebagai episentrum budaya sekaligus sentra kuliner sejatinya sudah berada di jalur yang tepat.

“Ini merupakan cita-cita kami di periode kedua bersama Wakil Bupati, yakni mem-branding Sampang agar semakin dikenal luas. Ke depan, sektor budaya dan kuliner harus berjalan beriringan,” ucap Slamet, Kamis (12/12).

Budaya, Kuliner dan Fenomena ‘Merantau’

Budaya dan kuliner memang dua sektor yang bisa berjalan beriringan dan saling menguatkan. Masalahnya, cita-cita itu kerap berhenti di level slogan jika tidak diikuti desain kebijakan yang konkret. Branding tanpa ekosistem hanya akan melahirkan event-event temporer, bukan lapangan kerja permanen. Padahal, dari satu panggung budaya saja, kita bisa membayangkan rantai ekonomi panjang: pelaku seni, perajin kostum, penata musik, UMKM kuliner, hingga sektor pariwisata berbasis lokal.

Ironisnya, di saat potensi semacam itu terus dipertontonkan, realitas sosial Madura justru ditandai oleh arus keluar tenaga kerja yang masif. Banyak warga Madura terpaksa hengkang ke luar daerah, bahkan ke luar negeri, demi menutup kebutuhan hidup yang tak bisa dipenuhi di kampung sendiri. Ini bukan soal rendahnya etos kerja (sejarah migrasi orang Madura justru membuktikan sebaliknya) melainkan soal ketiadaan lapangan pekerjaan yang layak di tanah yang kaya sumber daya.

Persoalan serupa terjadi di sektor pertanian, terutama tembakau dan garam. Dua komoditas ini selama puluhan tahun menjadi identitas ekonomi Madura, tetapi nyaris selalu ditempatkan sebagai sektor mentah. Petani hanya berperan sebagai produsen bahan baku, sementara nilai tambah dinikmati pihak lain di luar Madura. Tembakau Madura dikenal kualitasnya, garam Madura menyuplai kebutuhan nasional, tetapi kesejahteraan petaninya stagnan. Lagi-lagi, masalahnya bukan pada potensi, melainkan pada absennya industrialisasi berbasis lokal dan keberpihakan kebijakan.

Dalam konteks inilah kegiatan seperti Panggung Budaya Madura semestinya dibaca lebih jauh dari sekadar agenda kebudayaan tahunan. Ia bisa menjadi pintu masuk terhadap kesadaran bersama untuk membangun ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan sektor pertanian dan kuliner.

Bayangkan jika tembakau tidak hanya dijual sebagai daun kering, tetapi diolah menjadi produk turunan legal bernilai tinggi; jika garam tidak hanya berhenti di tambak, tetapi masuk ke industri pengolahan; jika kuliner Madura diposisikan sebagai identitas gastronomi yang dikelola profesional. Semua itu bukan utopia, melainkan soal kemauan politik dan desain pengelolaan.

Madura tidak kekurangan panggung, tetapi kekurangan keberlanjutan. Tidak kekurangan potensi, tetapi kekurangan tata kelola. Selama kebudayaan hanya dirayakan, bukan diindustrikan; selama pertanian hanya dipanen, bukan diolah; selama kebijakan hanya berhenti pada event, bukan ekosistem, maka migrasi akan terus menjadi jalan hidup sebagian besar orang Madura.

Panggung Budaya Madura di Sampang telah menunjukkan satu hal penting: Madura punya segalanya untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Yang masih absen adalah keberanian untuk mengelola potensi itu secara serius, konsisten, dan berpihak pada masyarakat lokal. Tanpa itu, Madura akan terus menjadi tanah yang kaya, tetapi ditinggalkan oleh anak-anaknya sendiri. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x