
KAMURA.id – Jalan, atau barangkali kita bisa menyebutnya infrastruktur secara lebih luas, adalah nadi dari perkembangan suatu daerah. Dari sanalah pergerakan manusia, barang, dan gagasan berlangsung. Ketika infrastruktur berfungsi dengan baik, denyut ekonomi akan menguat; sebaliknya, ketika ia tersendat, pembangunan pun berjalan tertatih. Realitas inilah yang hingga kini masih dirasakan di banyak wilayah Pulau Madura.
Dorongan peningkatan infrastruktur jalan kembali disuarakan oleh Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur, Harisandi Savari, Jumat (16/1/2026). Dilansir dari Malang Times, Harisandi menempatkan pembangunan jalan sebagai kunci untuk mendongkrak geliat ekonomi masyarakat Madura, bukan semata proyek fisik, melainkan investasi strategis jangka panjang.
Infrastruktur Jalan sebagai Pengungkit Ekonomi
Secara konseptual, argumen tentang pentingnya jalan sulit dibantah. Infrastruktur jalan yang memadai akan menghubungkan wilayah yang sebelumnya terisolasi dengan pusat-pusat ekonomi. Petani dan nelayan Madura, misalnya, akan lebih mudah membawa hasil bumi ke pasar dengan biaya logistik yang lebih rendah.
Jalan yang mantap berarti efisiensi. Ongkos distribusi menurun, waktu tempuh lebih singkat, dan risiko kerusakan barang dapat ditekan. Dalam konteks ekonomi lokal, kondisi ini membuka peluang bagi produk-produk Madura, baik hasil pertanian, perikanan, maupun UMKM, untuk bersaing secara lebih luas, tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga regional.
Potensi Madura sejatinya tidak berhenti pada sektor agraris. Pariwisata religi dan wisata pantai menyimpan daya tarik besar, namun hingga kini belum tergarap optimal. Salah satu penghambat utamanya adalah akses jalan yang belum merata, terutama di wilayah pelosok.
Meski kawasan sekitar Jembatan Suramadu telah menikmati infrastruktur yang relatif baik, kondisi tersebut belum sepenuhnya menjalar ke daerah pedalaman. Jalan sempit dan rusak masih menjadi pemandangan umum. Jika ketimpangan ini terus dibiarkan, pembangunan justru berisiko menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru yang eksklusif, sementara wilayah lain tertinggal semakin jauh.
Selain jalan, Harisandi juga menyoroti pentingnya transportasi publik melalui perluasan koridor Bus Trans Jatim. Dengan tarif yang terjangkau, moda transportasi ini terbukti membantu mobilitas kerja dan pendidikan masyarakat, khususnya di wilayah Bangkalan.
Aspirasi masyarakat agar layanan Bus Trans Jatim diperluas hingga ke kawasan kampus seperti Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mencerminkan kebutuhan riil akan transportasi publik yang inklusif. Jika layanan ini benar-benar bergeser lebih ke timur Madura, dampaknya tidak hanya pada kemudahan mobilitas, tetapi juga pada pemerataan akses pendidikan dan kesempatan kerja.
Antara Perencanaan dan Realisasi Kebijakan
Meski gagasan dan arah kebijakan terdengar menjanjikan, pengalaman selama ini mengajarkan satu hal penting: jarak antara perencanaan dan realisasi kebijakan kerap kali cukup jomplang. Banyak proyek infrastruktur berhenti pada tataran wacana, atau terealisasi tanpa kualitas dan pengawasan yang memadai.
Jalan dibangun, tetapi cepat rusak karena perencanaan teknis yang lemah. Anggaran tersedia, namun pengawasan tidak optimal. Lebih dari itu, perawatan pascapembangunan sering kali luput dari perhatian. Jika persoalan ini tidak diidentifikasi sejak awal, pembangunan infrastruktur hanya akan menjadi siklus tambal-sulam yang menguras anggaran tanpa dampak jangka panjang.
Penjelasan mengenai pembagian kewenangan jalan, antara Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten, hingga Desa, memang penting agar masyarakat memahami ke mana aspirasi harus disampaikan. Namun dalam praktiknya, pembagian kewenangan ini kerap berubah menjadi ruang abu-abu.
Tidak jarang, jalan rusak dibiarkan bertahun-tahun karena masing-masing pihak merasa bukan penanggung jawab utama. Tanpa koordinasi lintas level pemerintahan yang kuat, edukasi kepada masyarakat saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan struktural tersebut.
Dorongan pembangunan infrastruktur jalan di Madura hanya akan bermakna jika disertai komitmen eksekusi yang konsisten. Pembangunan harus berbasis kebutuhan nyata masyarakat, diawasi secara ketat, dan dirancang dengan skema perawatan jangka panjang.
Jika kebijakan ini benar-benar diwujudkan secara serius, infrastruktur dapat menjadi pintu masuk bagi transformasi ekonomi Madura. Namun jika tidak, ia hanya akan menjadi janji pembangunan yang terus diulang: indah dalam perencanaan, tetapi rapuh dalam pelaksanaan. (Red)

Tidak ada komentar