
KAMURA.id – Beberapa waktu lalu, Martin Suryajaya membahas buku In Praise of Shadows karya Jun’ichirō Tanizaki. Buku itu mengulas soal rumah tradisional Jepang, dari urusan tata cahaya, material kayu, dan tata ruang yang sederhana. Singkatnya, semua elemen itu merupakan cerminan dari cara orang Jepang (khususnya di daerah Kyoto) dalam memahami relasi mereka dengan alam, waktu, dan sesama.
Mendengar ulasan Martin, saya terusik oleh pertanyaan yang sama tentang Madura: apa yang sesungguhnya terkandung di dalam tradisi arsitektur tradisional kita?
Sebagaimana di Kyoto, arsitektur tradisional Madura, khususnya di Sumenep, bukan produk selera belaka. Wiryoprawiro dalam Arsitektur Tradisional Madura Sumenep (1986) mencatat bahwa Sumenep menjadi satu-satunya wilayah di Madura yang masih menyimpan jejak peninggalan arsitektur terlengkap: dari keraton, rumah bangsawan, hingga hunian rakyat. Dan semuanya menanggung beban nilai yang jauh melampaui fungsi fisiknya.
Yang paling khas adalah sistem tanean lanjhang. Konsep ini merujuk pada halaman yang mengikat tiga massa bangunan: roma (rumah induk), pandhepa (ruang tamu/pertemuan), dan dapor (dapur). Ketiganya tidak berdiri sendiri. Mereka terikat dalam satu tata ruang yang mencerminkan struktur sosial penghuninya: ada ruang untuk menerima dunia luar, ada ruang untuk kehidupan keluarga inti, dan ada ruang untuk yang paling domestik. Setiap massa punya posisi, dan posisi itu bukan kebetulan.
Material yang digunakan pun memiliki nilai khas. Fajarwati dkk (2020) membahas secara mendetail perihal ini dalam Dentifikasi Struktur Bangunan Rumah Tradisional di Desa Pinggirpapas. Dalam pemaparannya, mereka mendedah aspek material dalam bangunan tradisional Madura, seperti kayu jati yang digunakan untuk seluruh rangka bangunan (badan dan atap). Batu karang untuk pandemen atau pondasi. Genteng tanah liat untuk penutup.
Semuanya material alam, dan semuanya dipilih bukan karena kemewahan, tetapi karena relevansi: dengan iklim, dengan kondisi tanah, dengan apa yang tersedia dari lingkungan sekitar. Bahkan sistem konstruksinya dibuat bongkar-pasang, sehingga bangunan bisa dipindahkan.
Nilai yang Tidak Pernah Diajarkan
Di sinilah masalahnya dimulai. Nilai-nilai ini nyaris tidak pernah ditransmisikan secara serius. Nilai-nilai itu mungkin hidup dalam praktik, tetapi bukan dalam narasi yang betul-betul disadari. Ketika praktik mulai goyah akibat perubahan ekonomi, mobilitas sosial, dan derasnya arus modernisme, tidak ada sistem nilai yang cukup kokoh untuk menahannya. Yang tersisa hanya bentuk fisiknya yang makin langka.
Modernisme tidak datang dengan kekosongan. Ia datang membawa logika sendiri: bahwa kemajuan diukur dari akumulasi, bahwa status ditentukan oleh kepemilikan, bahwa yang baru selalu lebih baik dari yang lama. Dalam logika ini, roma dengan sasaka ageng-nya yang kokoh, atap bangsal-nya yang rendah, atau tompangsare-nya yang bertingkat ganjil, terasa ketinggalan zaman. Ia diganti oleh rumah beton dengan tiang-tiang besar yang tidak perlu, pagar tinggi yang mengurung, dan ornamen yang mahal tetapi tidak bermakna. Bangunan berubah dari pernyataan filosofis menjadi pernyataan kekayaan.
Pergeseran ini bukan terjadi dalam satu putaran bulan. Ia berlangsung pelan, tanpa perlawanan berarti, karena memang tidak pernah ada batas penghalau yang sungguh-sungguh dibangun, baik berupa kebijakan kebudayaan, kurikulum pendidikan, maupun common will yang terorganisir. Modernisme masuk tanpa visa ke Madura, dan ia menetap.
Manusia Madura dan Benda-benda
Ironinya adalah ini: manusia Madura, dari cara mereka membangun rumah, sejatinya bukan dari jenis bangsa yang “memuja” benda-benda.
Tata letak tanean lanjhang adalah ekspresi relasionalitas bahwa hidup bersama lebih penting dari hidup mewah. Pilihan material dari alam adalah ekspresi keselarasan, bahwa manusia tidak perlu menaklukkan lingkungannya, cukup berdialog dengannya. Sistem bongkar-pasang adalah ekspresi kebebasan, bahwa manusia tidak boleh terikat pada benda.
Tetapi hari ini, kita menyaksikan kebalikannya. Rumah dibangun sebesar mungkin, seramai mungkin ornamennya, setinggi mungkin pagarnya. Bukan untuk ditinggali dengan nyaman, tetapi untuk dilihat. Bukan untuk mendekatkan anggota keluarga, tetapi untuk menunjukkan bahwa pemiliknya mampu. Kita telah menjadi persis kebalikan dari apa yang pernah kita ajarkan lewat arsitektur kita sendiri.
Maka pertanyaan yang relevan bukan sekadar “kapan” pergeseran ini terjadi, melainkan “mengapa kita membiarkannya.” Tidak ada satu pun momen dramatis yang bisa kita tunjuk sebagai titik upaya demi menghapus nilai-nilai ini dengan sengaja. Sebab pada dasarnya yang terjadi adalah ketiadaan: ketiadaan narasi yang menjaga nilai-nilai itu tetap hidup dalam kesadaran kolektif.
Pola hidup yang mengalienasi kita dari akar identitas bukan keniscayaan sejarah. Ia adalah hasil dari pilihan, atau lebih tepatnya, hasil dari absennya kesadaran. Ketika tidak ada yang menjelaskan mengapa rumah tradisional Madura dibangun seperti itu, ketika tidak ada ruang di sekolah, di ruang publik, atau di kebijakan daerah untuk mendiskusikan nilai-nilai itu, maka yang mengisi kekosongan itu adalah logika pasar.
Alternatif yang Lahir dari Rahim Sendiri
Upaya untuk memutus kebiasaan “memuja benda-benda” tidak bisa datang dari luar. Ia harus lahir dari rahim kebudayaan Madura itu sendiri, dari nilai-nilai yang sudah ada di dalam tanean, di dalam pilihan material, di dalam sistem sosial budaya yang memang inheren di dalam khazanah orang Madura.
Nilai-nilai ini tidak perlu diciptakan dari nol. Mereka hanya perlu ditemukan kembali, diartikulasikan, dan dipertahankan dengan sungguh-sungguh.
Ini bukan sikap nostalgik. Bukan ajakan untuk kembali tinggal di rumah kayu bongkar-pasang dan menolak segala yang modern. Tetapi apa yang ingin disampaikan oleh esai ini adalah ajakan untuk menyelamatkan navigasi, yakni cara manusia Madura memahami dirinya dalam relasi dengan orang lain, dengan alam, dan dengan benda-benda di sekitarnya.
Navigasi itulah yang hilang. Dan tanpa navigasi, kita tidak ke mana-mana; kita hanya berputar mengikuti arus yang paling deras.
*
Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar