x

Potensi Pertanian di Madura di Tengah Terpaan Akal Imitasi (AI)

waktu baca 5 menit
Minggu, 28 Jun 2026 11:45 79 Kamura

KAMURA.id – Video Sabda PS, seorang kreator konten sekaligus pendiri Zenius Education, berseliweran di linimasa media sosial. Dia menyoroti soal salah kaprah ajakan agar segenap anak muda seharusnya diarahkan supaya lebih melek digital. Ajakan ini adalah demi mempersiapkan generasi muda untuk masa depan yang katanya akan semakin terdigitalisasi, di mana ruang-ruang kerja akan sepenuhnya berbasis layar dan koneksi internet.

Pesan itu, untuk konteks beberapa tahun lalu, barangkali masuk akal. Tetapi hari ini, fenomenanya justru bounce back.

Riset yang dilakukan Maxim Massenkoff dan Peter McCrory dari Anthropic berjudul Labor market impacts of AI: A new measure and early evidence menunjukkan bahwa pekerjaan-pekerjaan digital justru paling rentan tergeser oleh kecerdasan buatan. Programmer, misalnya, masuk dalam kategori dengan tingkat paparan AI tertinggi: 74,5 persen dari tugas-tugas mereka sudah bisa dikerjakan mesin. Customer service (70,1%), data entry (67,1%), analis riset pasar (64,8%), hingga analis keuangan (57,2%) menyusul di belakangnya. Pola yang muncul dari data itu konsisten: semakin repetitif dan berbasis informasi suatu pekerjaan, semakin mudah ia digantikan.

Yang bertahan justru adalah pekerjaan yang menuntut kehadiran fisik, penilaian sosial, atau keahlian tangan yang tidak bisa didigitalisasi. Guru, perawat, tukang las, mekanik, petani, semua profesi ini dianggap masih tetap butuh manusia. Bukan karena AI tidak cerdas, tapi karena tubuh dan pengalaman (sementara ini) belum bisa direplikasi oleh model bahasa.

Ketika membaca ada profesi petani, saya justru melihat ada masa depan Madura di sana.

Aset Pengetahuan Pertanian Madura

Ketika kita bicara soal pertanian di Madura, stereotipnya berkutat seputar: tanah kering, produktivitas rendah, dan orang-orangnya yang pergi merantau karena tanah mereka tidak cukup menghidupi. Narasi ini memang tidak sepenuhnya salah, walaupun masih belum utuh.

Sebuah disertasi doktoral yang ditulis oleh W.G. Smith berjudul Ecological Anthropology of Households in East Madura, Indonesia (2011) membongkar lapisan yang lebih dalam dari itu.

Yang ditemukan Smith bukan sekadar petani yang bertahan hidup di lahan marginal. Yang ia temukan adalah sistem pengetahuan ekologis yang sudah beroperasi selama berabad-abad: bagaimana orang Madura membaca musim, memilih varietas tanaman yang tepat untuk kondisi tanah tertentu, mengatur tenaga kerja keluarga secara efisien, mengelola air di wilayah yang kering, dan mempertahankan produktivitas tanpa merusak ekosistem.

Segala yang dilakukan oleh para petani di Madura ini tak lain adalah aset pengetahuan yang nyata, dan nilainya justru sangat dibutuhkan di tengah terpaan akal imitasi atau AI.

Di tengah krisis iklim dan pertanian industrial yang semakin banyak dipertanyakan dampaknya, pengetahuan tentang bertani di lahan kering dengan input minimal dan kearifan lokal yang terbukti adalah sesuatu yang tidak bisa begitu saja dihasilkan oleh model AI manapun. AI bisa mengolah data cuaca, tapi sejauh ini belum bisa menggantikan petani yang sudah puluhan tahun membaca tanah yang sama, sebagaimana yang dilakukan oleh petani di Madura.

Modernisasi Kebablasan

Masalahnya, narasi yang dominan di Madura (dan di banyak daerah serupa), masih berkutat pada pola pikir biner: modernisasi berarti urbanisasi, urbanisasi berarti kerja kantoran, kerja kantoran berarti melek digital. Anak-anak yang cerdas didorong masuk ke kota, belajar coding, mengejar pekerjaan putih kerah, dan meninggalkan kampung. Dan sekarang kita lihat ironinya, bahwa ternyata justru itulah kategori pekerjaan yang paling cepat terkena dampak AI.

Ini bukan berarti kita harus melarang anak-anak Madura belajar coding atau mengejar karier di bidang teknologi. Tapi kita akan sangat merugi apabila kita melupakan hal yang justru krusial: orientasi pendidikan yang terlalu seragam dan tidak membaca potensi lokal dengan serius.

Anak-anak yang tumbuh dekat dengan alam punya jenis kecerdasan yang berbeda. Bukan lebih rendah, hanya berbeda. Mereka, seandainya meresapi pengetahuan moyangnya, mesti tahu kapan hujan akan datang dari bau tanah. Mereka bisa tahu tanaman mana yang bisa tumbuh berdampingan. Mereka idealnya bisa membaca tanda-tanda yang belum sempat tertutang di dalam buku-buku teks sekolah. Sekolah seharusnya mengembangkan kecerdasan itu, bukan mengabaikannya demi mengejar kurikulum yang dirancang oleh liyan.

Maka penting ditegaskan bahwa yang dibutuhkan Madura bukan penolakan terhadap teknologi. Justru sebaliknya.

Teknologi dan AI bisa menjadi alat yang sangat berguna jika diposisikan sebagai pendukung, bukan pengganti. Jika ini dioptimalisasi, kita barangkali bisa melihat petani Madura yang mengakses data agronomi berbasis AI untuk meningkatkan pemilihan varietas tanamannya, tapi tetap menggunakan pengetahuan lokal tentang kondisi tanah dan air yang sudah diwariskan turun-temurun.

Kita juga barangkali akan melihat sistem pertanian yang didukung sensor kelembaban tanah dan analisis cuaca, kendati keputusan akhir tetap di tangan orang yang sudah mengenal lahan itu sejak kecil.

Kombinasi itu bukan utopia, tetapi sudah terjadi di berbagai tempat di dunia, dan Madura punya modal awal yang tidak dimiliki banyak daerah lain: pengetahuan ekologis yang dalam dan SDM yang tidak takut kerja keras.

Kapan itu akan diraih? Entah. Sebab, problemnya saat ini masih ada minus: akses. Akses terhadap informasi, terhadap teknologi yang tepat guna, akses terhadap stabilitas pasar, dan terhadap modal untuk mengembangkannya. Itu yang perlu didorong dan bukan dengan cara mendorong semua orang keluar dari Madura menuju pekerjaan digital yang justru sedang terancam, tapi dengan membuka jalan agar potensi yang sudah ada di sini bisa berkembang secara optimal.

*

Fauzan Nur Ilahi

Peneliti Karsana Muda Madura (KAMURA)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x