x

Optimisme di Awal Musim Tembakau: Harga Tinggi, Jaminan yang Belum Pasti

waktu baca 4 menit
Rabu, 19 Agu 2026 13:44 115 Kamura

KAMURA.id – Doa bersama di Gudang Induk PT Bawang Mas, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Minggu (16/8/2026) menjadi penanda resmi dimulainya pembelian tembakau musim tanam 2026.

CEO PT Bawang Mas, H. Khairul Umam yang akrab disapa Haji Her, memimpin langsung prosesi tersebut bersama sejumlah kiai dari Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA). Usai doa dipanjatkan, transaksi pembelian dibuka. Pada hari pertama itu juga, harga tembakau langsung dipatok di kisaran Rp70.000 hingga Rp75.000 per kilogram untuk kualitas terbaik.

Rentang harga itu bukan angka kecil bagi petani Madura yang setiap musim menghadapi ketidakpastian pasar. Daftar harga resmi yang dikeluarkan PT Bawang Mas mencantumkan tujuh tingkatan kualitas, dari Grade A+ di harga tertinggi hingga Grade T di angka Rp50.000 per kilogram. Struktur harga bertingkat ini memberi sinyal penting: penyerapan tidak dilakukan secara serampangan, melainkan mengikuti standar mutu yang jelas dan terbuka untuk diketahui petani sejak awal.

Momentum pembukaan gudang ini kemudian bertautan dengan gambaran lapangan yang terekam beberapa hari setelahnya.

Pada Selasa (18/8/2026), melansir sebuah laporan dari Kompas, antrean truk dan pikap pengangkut tembakau di gudang Haji Her sudah mengular hingga satu kilometer. Ratusan bal tembakau turut mengantre di dalam gudang Bawang Mas Group untuk disortir. Jarak dua hari antara seremoni pembukaan dan lonjakan antrean ini menunjukkan respons pasar yang cepat terhadap sinyal harga yang ditawarkan.

Harga tinggi saja tidak cukup menjelaskan mengapa antrean sepanjang itu terbentuk. Ada dua hal yang tampaknya bekerja bersamaan.

Pertama, harga terendah pun tetap berada di titik yang masih menguntungkan petani, yakni Rp50.000 per kilogram, sehingga tembakau kualitas rendah tidak otomatis kehilangan nilai jual.

Kedua, penolakan hanya diberlakukan pada tembakau daun muda dan pahit, bukan pada kualitas rendah secara umum. Kombinasi ini membuka ruang serapan yang lebih lebar dibanding skema yang hanya menerima kualitas premium.

Di titik ini, penekanan Haji Her soal kedisiplinan panen menjadi elemen yang tidak bisa dipisahkan dari soal harga.

Ia meminta petani tidak terburu-buru memetik daun muda demi mengejar waktu, karena keterburuan semacam itu akan merusak mutu tembakau dan pada akhirnya menekan harga jual.

Permintaan ini sekaligus mengafirmasi bahwa kualitas tembakau bukan semata hasil alam, melainkan juga hasil kesabaran dan ketepatan waktu panen yang dijaga petani sendiri.

Stabilitas yang Belum Terjamin

Persoalannya, harga tinggi di hari pembukaan tidak otomatis berarti harga akan bertahan sepanjang musim. Pengalaman bertahun-tahun menunjukkan harga tembakau Madura kerap berdiri tidak tegak begitu musim panen berjalan lebih jauh, ketika pasokan menumpuk dan daya beli pabrikan mulai dihitung ulang. Fenomena yang ditakutkan adalah harga pembuka musim terlihat menjanjikan, namun berangsur turun begitu petani lain di berbagai penjuru Madura ikut memanen secara bersamaan.

Di sinilah letak kerentanan struktural yang sesungguhnya. Harga yang dipatok satu gudang, sebesar apa pun komitmennya, tetap bergantung pada mekanisme pasar yang tidak dikendalikan sendiri oleh gudang tersebut.

Komitmen personal seorang pengusaha untuk membeli dengan harga layak patut diapresiasi, tetapi komitmen semacam itu tidak bisa menjadi satu-satunya sandaran petani menghadapi fluktuasi harga tahunan. Yang dibutuhkan bukan sekadar itikad baik pembeli, melainkan instrumen kebijakan yang mengikat dan berlaku di seluruh rantai perdagangan tembakau Madura.

Pemerintah daerah dan pusat tidak boleh menyerahkan urusan harga tembakau sepenuhnya pada hukum permintaan dan penawaran. Skema Batas Pembelian Terendah atau Bea Perolehan Petani yang selama ini kerap didiskusikan (kendati sudah nyata bahwa dampaknya belum maksimal) perlu benar-benar dieksekusi dengan pengawasan ketat, bukan sekadar wacana yang muncul setiap musim panen tiba lalu menghilang begitu harga sempat naik di awal.

Ketiadaan jaminan harga dari negara membuat nasib petani tembakau bergantung penuh pada kebaikan hati pembeli individual, situasi yang secara struktural rapuh meski secara sosial terasa menenangkan untuk sementara. Dan untuk itu upaya menggaungkan KEK Madura yang salah satunya juga mewadahi komoditas tembakau akan tetap relevan bagi Madura.

Antrean panjang di gudang Bawang Mas hari ini adalah gambaran optimisme awal musim yang layak disyukuri. Namun optimisme itu belum tentu mampu bertahan tanpa kerangka kebijakan yang menopangnya hingga musim berakhir.

Doa yang dipanjatkan di awal pembukaan gudang mencerminkan harapan bersama akan hasil panen yang baik dan transaksi yang lancar. Harapan itu akan lebih berarti jika turut diikuti oleh kehadiran negara yang menjamin harga tembakau Madura tidak anjlok, bukan hanya bergantung pada belas kasih pasar dan kebaikan segelintir pengusaha.

*

Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x