
Sumber gambar: buguruku.com KAMURA.id – Belum seminggu ketika media sosial ramai dengan sebuah unggahan yang membahas temuan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri tentang dua penduduk tertua di Indonesia yang ternyata berasal dari Madura, Senin (4/8/2026). Maryam, warga Kabupaten Bangkalan, tercatat berusia 118 tahun. Sementara Sahami, warga Kabupaten Pamekasan, berada di posisi kedua dengan usia 117 tahun.
Angka itu menarik perhatian publik. Usia 118 tahun bukan usia yang lazim. Bahkan, umur Maryam dan Sahami telah membawa kita jauh melewati batas usia harapan hidup masyarakat Indonesia pada umumnya.
Namun, ada pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar siapa penduduk tertua Indonesia. Mengapa dua orang dengan usia ekstrem tersebut berasal dari Madura?
Pertanyaan ini tidak berarti bahwa Madura adalah wilayah dengan penduduk paling panjang umur. Dua orang saja tidak cukup untuk membuktikan sebuah pola populasi. Namun, justru karena itulah fenomena Maryam dan Sahami layak diperlakukan sebagai sebuah pertanyaan ilmiah. Ada sesuatu yang perlu dicari tahu.
Mencari Penjelasan
Ilmu pengetahuan telah lama menunjukkan bahwa umur panjang tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal. Umur panjang sejatinya bukan misteri, dan untuk alasan itulah tulisan ini memberi tanda petik pada kata “misteri” di bagian judul.
Genetik memiliki peran penting, pun dengan aspek lain yang turut membentuk kehidupan seseorang: makanan, aktivitas fisik, kondisi lingkungan, kualitas tidur, hubungan sosial, kondisi ekonomi, hingga cara seseorang menjalani kehidupannya.
Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan di GeroScience pada 2024, misalnya, menganalisis 34 penelitian tentang centenarian dan orang yang mendekati usia 100 tahun. Rentang usia subjek dalam penelitian tersebut mencapai 95 hingga 118 tahun. Sebagian besar tinggal di wilayah pedesaan, sementara karakteristik yang ditemukan antara lain pola makan yang beragam, rendahnya proporsi perokok aktif, serta sejumlah indikator gaya hidup yang relatif sehat.
Penelitian itu juga menemukan bahwa pola makan, berat badan, dan kebiasaan hidup merupakan faktor yang patut diperhatikan dalam memahami penuaan yang sehat.
Temuan tersebut tidak bisa begitu saja ditempelkan kepada masyarakat Madura. Tidak ada dasar ilmiah untuk mengatakan bahwa orang Madura panjang umur karena mengonsumsi makanan tertentu atau karena memiliki kebiasaan tertentu sebelum penelitian dilakukan secara khusus. Dengan kata lain, untuk mampu menjelaskan fenomena Maryam dan Sahami, kita membutuhkan riset yang trusted.
Penelitian yang saya maksud adalah riset yang berkutat pada pertanyaan seputar ini: jika keduanya benar-benar telah menjalani kehidupan selama lebih dari satu abad, maka kehidupan mereka sesungguhnya menyimpan data yang sangat berharga.
Apa yang mereka makan sejak kecil? Seberapa sering mereka mengonsumsi makanan olahan dan makanan segar? Apakah mereka terbiasa berjalan kaki atau melakukan pekerjaan fisik? Bagaimana pola tidur mereka? Apakah mereka menjalani kehidupan yang relatif tenang? Bagaimana hubungan mereka dengan anak, cucu, tetangga, dan komunitas? Apakah mereka memiliki kebiasaan sosial atau keagamaan tertentu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, walaupun tidak ada pertanyaan sederhanya jika itu menyangkut riset. Oleh karena itu, jika diteliti secara sistematis terhadap Maryam, Sahami, dan penduduk Madura lain yang mencapai usia sangat lanjut, hasilnya dapat menjadi pengetahuan yang jauh lebih berharga daripada sekadar berita tentang siapa manusia tertua di Indonesia.
Sebab, umur panjang tidak hanya berkaitan dengan tubuh. Ia juga berkaitan dengan cara seseorang menjalani kehidupan.
Tinjauan sistematis lain tentang determinan healthy ageing menemukan sedikitnya sepuluh faktor yang berulang dalam berbagai kerangka penelitian: aktivitas fisik, pola makan, kesadaran diri, cara pandang terhadap kehidupan, pembelajaran sepanjang hayat, keyakinan, dukungan sosial, keamanan finansial, keterlibatan dalam komunitas, dan kemandirian. Penelitian tersebut juga menekankan bahwa aspek sosial dan mental tidak dapat dipisahkan dari kesehatan fisik ketika membicarakan penuaan yang sehat.
Dengan demikian, “misteri” umur panjang Madura tidak seharusnya dicari hanya di dalam satu aspek terpisah. Jawabannya barangkali saling berkelindan. Ia mungkin ada di rumah. Di halaman. Di sawah. Di kebiasaan berjalan kaki. Di hubungan antara orang tua dan anak. Di lingkungan sosial. Bahkan mungkin di cara seseorang memandang hidup.
Semua itu masih berupa kemungkinan, bukan kesimpulan. Karena itu, fenomena Maryam dan Sahami seharusnya menjadi alasan untuk melakukan penelitian yang lebih serius. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lembaga kesehatan dapat menjadikan fenomena ini sebagai pintu masuk untuk mempelajari penduduk berusia sangat lanjut di Madura.
Jika ditemukan pola tertentu, pengetahuan tersebut tidak harus berhenti sebagai kebanggaan lokal. Ia dapat menjadi pengetahuan publik yang berguna bagi Indonesia, bahkan komunitas global yang sedang menghadapi persoalan penuaan penduduk.
Walaupun perlu dicatat bahwa ada persoalan lain yang tidak boleh dilewatkan: Panjang umur belum tentu berarti panjang dalam kesejahteraan.
Hidup Lama dan Hidup Berkualitas
Di titik ini, berita tentang dua penduduk tertua Madura perlu dibaca dengan cara yang berbeda.
Madura selama bertahun-tahun menghadapi persoalan pembangunan yang jauh lebih mendasar. Empat kabupaten di Pulau Madura masih berada dalam kelompok dengan persentase penduduk miskin tertinggi di Jawa Timur. Pada 2025, Sampang mencatat angka kemiskinan 20,61 persen, Bangkalan 18,25 persen, Sumenep 17,02 persen, dan Pamekasan 12,77 persen.
Artinya, kita tidak boleh buru-buru mengubah dua penduduk berusia lebih dari satu abad menjadi narasi romantis tentang Madura sebagai “tanah umur panjang”.
Sebab ada pertanyaan yang jauh lebih penting: Panjang umur untuk hidup seperti apa?
Pertanyaan tersebut penting karena tujuan pembangunan manusia tidak berhenti pada membuat seseorang hidup lebih lama. Kehidupan yang panjang baru memiliki makna ketika seseorang dapat menjalaninya dalam kondisi sehat, aman, mandiri, dan bermartabat.
Bahkan penelitian tentang centenarian menunjukkan bahwa umur panjang dan kualitas hidup bukanlah dua hal yang otomatis berjalan bersama. Tinjauan sistematis tentang kelompok usia sangat lanjut menemukan bahwa sebagian centenarian mengalami keterbatasan aktivitas sehari-hari, hipertensi, dan gangguan kognitif. Dengan kata lain, mencapai usia 100 tahun tidak berarti seseorang otomatis berada dalam kondisi kesehatan yang ideal.
Karena itu, keberadaan Maryam dan Sahami semestinya melahirkan dua agenda sekaligus. Agenda pertama adalah mencari tahu bagaimana seseorang dapat hidup sangat lama. Agenda kedua adalah memastikan orang yang hidup lama tetap dapat hidup dengan baik.
Agenda kedua inilah yang lebih mudah dilupakan.
Ketika pemerintah berbicara mengenai angka harapan hidup, misalnya, yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah angka tersebut meningkat. Pemerintah juga perlu bertanya apakah tambahan usia tersebut disertai peningkatan kualitas kesehatan, akses layanan kesehatan, keamanan ekonomi, lingkungan yang layak, serta dukungan sosial bagi lansia.
Dalam konteks Madura, persoalan tersebut menjadi semakin penting karena kemiskinan masih menjadi masalah struktural. Kemiskinan tidak otomatis membuat seseorang berumur pendek, sebagaimana kekayaan juga tidak otomatis membuat seseorang panjang umur. Namun kondisi ekonomi sangat menentukan kemampuan seseorang memperoleh makanan bergizi, layanan kesehatan, tempat tinggal yang layak, serta dukungan perawatan ketika kemampuan fisik mulai menurun.
Maka, ada kontradiksi yang menarik di sini. Di satu sisi, Madura menghadirkan dua manusia yang tercatat mampu hidup lebih dari satu abad. Di sisi lain, pulau yang sama masih menghadapi persoalan kemiskinan yang serius. Keduanya tidak harus dipertentangkan. Justru keduanya perlu dibaca bersama.
Maryam dan Sahami dapat menjadi alasan untuk bertanya tentang rahasia umur panjang. Tetapi keberadaan mereka juga seharusnya menjadi alasan untuk bertanya apakah masyarakat Madura secara keseluruhan memiliki kesempatan untuk menua dengan layak.
Artinya, upaya pengembangan yang dilakukan oleh pemerintah tidak boleh berhenti pada upaya memperpanjang usia. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa ketika seorang warga Madura mencapai usia 70, 80, 90, bahkan 100 tahun, ia tidak hanya masih hidup, tetapi masih memiliki akses terhadap kesehatan, keamanan ekonomi, keluarga, komunitas, dan kehidupan yang bermartabat.
Dengan begitu, Maryam dan Sahami tidak sekadar menjadi nama dalam daftar penduduk tertua Indonesia. Mereka dapat menjadi pintu masuk bagi pertanyaan yang jauh lebih besar: apa sebenarnya yang membuat manusia dapat hidup panjang, dan apa yang harus dilakukan negara agar umur panjang itu layak untuk dijalani?
Daftar Bacaan:
Dai, Z., Lee, S. Y., Sharma, S., Ullah, S., Tan, E. C. K., Brodaty, H., Schutte, A. E., & Sachdev, P. (2024). A systematic review of diet and medication use among centenarians and near-centenarians worldwide. GeroScience, 46, 6625–6639.
Abud, T., Kounidas, G., Martin, K., Werth, M., Cooper, K., & Myint, P. K. (2022). Determinants of healthy ageing: A systematic review of contemporary literature. Aging Clinical and Experimental Research, 34, 1215–1223.
Ditjen Dukcapil, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (2026). Data Kependudukan Bersih (DKB) Semester I 2026.

Tidak ada komentar