x

Penyuplai Migas Utama, Mengapa Madura Belum Menjadi Kawasan Industri?

waktu baca 5 menit
Kamis, 30 Jul 2026 17:57 108 Kamura

KAMURA.id—Madura hampir selalu dikenang melalui apa yang tampak di permukaannya. Orang mengenalnya sebagai pulau garam. Sebagian lain mengingatnya sebagai penghasil tembakau terbaik di Indonesia. Ada pula yang melihat Madura sebagai lumbung sapi dan daerah asal para perantau yang tersebar di berbagai kota.

Namun, ada wajah Madura yang jarang dibicarakan.

Bukan yang berada di daratan, melainkan yang tersimpan di bawah lautnya.

Di perairan yang mengelilingi Madura, gas bumi diproduksi setiap hari. Melalui jaringan pipa bawah laut, energi itu mengalir menuju pembangkit listrik, kawasan industri, dan berbagai pusat ekonomi di Jawa Timur.

Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas eksplorasi bahkan terus berkembang dengan ditemukannya cadangan hidrokarbon baru di kawasan utara Madura. Artinya, Madura bukan hanya dikenal sebagai pulau garam atau tembakau. Pulau ini juga telah menjadi salah satu penyangga penting ketahanan energi nasional.

Ironisnya, identitas itu hampir tidak pernah hadir dalam percakapan tentang pembangunan Madura.

Yang lebih sering muncul justru angka kemiskinan, rendahnya industrialisasi, terbatasnya lapangan pekerjaan, dan terus mengalirnya migrasi penduduk usia produktif ke luar pulau.

 

Kutukan Sumberdaya?

Pertanyaan yang kemudian layak diajukan adalah mengapa sebuah wilayah yang menjadi bagian penting dari rantai pasok energi nasional belum berhasil menjadikan energi itu sebagai mesin pembangunan daerahnya sendiri?

Pertanyaan tersebut sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang Madura. Ia merupakan pertanyaan klasik dalam ekonomi pembangunan.

Banyak daerah di dunia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi gagal mengubahnya menjadi kesejahteraan.

Para ekonom menyebutnya sebagai resource curse atau kutukan sumber daya. Kekayaan alam yang besar tidak otomatis menghadirkan kemakmuran apabila daerah penghasil hanya menjadi tempat pengambilan komoditas, sementara seluruh proses pengolahan dan penciptaan nilai tambah berlangsung di tempat lain.

Di sinilah Madura berada.

Selama ini, Madura lebih banyak menjalankan fungsi sebagai wilayah pemasok. Gas diambil di sekitar perairannya. Setelah itu, energi tersebut mengalir menuju pusat-pusat industri di luar pulau. Nilai tambah terbesar kemudian tercipta di tempat energi itu digunakan untuk menggerakkan pabrik, kawasan industri, dan aktivitas manufaktur.

Dengan kata lain, Madura menghasilkan energi, tetapi belum menikmati sepenuhnya manfaat ekonomi dari energi yang dihasilkannya.

Padahal, sejarah pembangunan menunjukkan bahwa kemajuan suatu daerah tidak pernah ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki. Yang menentukan justru kemampuan membangun rantai nilai di atas sumber daya tersebut.

Jepang hampir tidak memiliki minyak. Korea Selatan juga bukan negara yang kaya sumber daya alam. Namun keduanya berhasil menjadi kekuatan industri dunia karena mampu menciptakan nilai tambah melalui teknologi, manufaktur, dan inovasi.

Sebaliknya, tidak sedikit wilayah yang kaya minyak justru tetap tertinggal karena hanya menjadi lokasi ekstraksi. Sumber daya keluar setiap hari, tetapi pertumbuhan ekonomi lokal berjalan lambat.

 

Pembangunan Madura

Madura tidak boleh mengulangi pengalaman itu.

Selama ini, pembangunan Madura masih bertumpu pada sektor-sektor primer seperti pertanian, garam, tembakau, peternakan, dan perikanan.

Semua sektor tersebut memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Jawa Timur, tetapi sebagian besar masih menjual bahan mentah. Nilai tambah yang seharusnya dinikmati masyarakat lokal justru lebih banyak tercipta di luar Madura.

Kondisi yang sama jangan sampai terjadi pada sektor energi.

Gas bumi semestinya tidak hanya dipandang sebagai komoditas yang dijual. Lebih dari itu, gas harus diposisikan sebagai fondasi bagi lahirnya transformasi ekonomi Madura.

Energi yang tersedia dapat menjadi pendorong lahirnya kawasan industri baru. Industri pengolahan garam membutuhkan pasokan energi yang stabil. Hilirisasi tembakau juga demikian. Begitu pula industri pengolahan hasil laut, cold storage, hingga manufaktur skala menengah yang selama ini sulit berkembang karena keterbatasan infrastruktur pendukung.

Dengan energi yang memadai, biaya produksi dapat ditekan. Investasi menjadi lebih menarik. Lapangan kerja baru terbuka. Anak-anak muda Madura pun tidak harus selalu mencari masa depan di luar pulau.

Karena itu, persoalan utama Madura sesungguhnya bukan terletak pada ada atau tidaknya sumber daya. Persoalannya adalah bagaimana sumber daya tersebut ditempatkan dalam strategi pembangunan.

Selama orientasi kebijakan masih berhenti pada produksi, Madura akan terus menjadi daerah penghasil. Tetapi apabila orientasinya bergeser menuju industrialisasi dan hilirisasi, energi akan berubah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.

Perubahan cara pandang inilah yang perlu mulai dibangun.

Sudah saatnya Madura tidak lagi diposisikan sekadar sebagai wilayah penyedia bahan baku bagi daerah lain. Pulau ini harus dipandang sebagai kawasan yang layak menjadi pusat investasi, industri, dan inovasi berbasis sumber daya lokal.

Tentu, transformasi tersebut tidak dapat diwujudkan hanya dengan mengandalkan mekanisme pasar.

Negara harus hadir melalui kebijakan yang berpihak pada pembangunan kawasan. Infrastruktur energi perlu dihubungkan dengan kawasan industri. Investasi hilirisasi harus memperoleh insentif. Perguruan tinggi dan pesantren perlu dilibatkan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengisi kebutuhan industri baru. UMKM juga harus memperoleh akses terhadap energi yang lebih murah agar mampu meningkatkan daya saingnya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan Madura bukanlah seberapa besar gas yang berhasil diproduksi setiap hari.

Ukurannya adalah seberapa besar energi tersebut mampu mengubah kehidupan masyarakat Madura.

Sebab, tidak ada artinya menjadi penyuplai energi utama apabila kemakmuran justru tumbuh di tempat lain.

Madura telah lama menjadi penopang ekonomi Jawa Timur melalui garam, tembakau, peternakan, perikanan, dan kini energi. Sudah saatnya pembangunan tidak hanya berbicara tentang apa yang dapat diambil dari Madura, tetapi juga tentang apa yang dapat dibangun bersama Madura.

Di situlah sesungguhnya makna keadilan pembangunan.

Bukan sekadar membagi hasil produksi, melainkan menghadirkan masa depan yang tumbuh dari tanah yang selama ini telah memberi begitu banyak bagi Indonesia.

 

 

Subairi Muzakki

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x