x

Ekologi Tegal: Mengapa Pertanian Madura Berbeda dari Jawa

waktu baca 3 menit
Selasa, 30 Sep 2025 16:55 279 Kamura

KAMURA.id—Subuh di pedesaan Madura bukanlah pemandangan sawah hijau yang menghampar luas seperti di Jawa. Yang tampak adalah tegalan: lahan kering dengan jagung yang tumbuh jarang, tembakau berbaris kaku di tanah berbatu, dan sesekali pohon siwalan yang menjulang seolah jadi penanda ekologi khas Madura.

Inilah wajah pertanian Madura, wajah yang sejak lama membentuk pola hidup, budaya, dan bahkan karakter orang Madura.

Sejarawan Kuntowijoyo dalam karya klasiknya, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850–1940, menegaskan bahwa Madura tidak bisa dipahami dengan kacamata Jawa.

Jika Jawa adalah pulau sawah dengan irigasi yang rumit, Madura adalah pulau tegal—lahan kering yang mengandalkan hujan, ditanami palawija, jagung, ubi, kacang-kacangan, dan tentu saja tembakau.

Keterbatasan air membentuk pola pikir: hemat, keras, dan terbiasa menghadapi ketidakpastian.

Inilah yang kemudian menjelaskan migrasi besar-besaran orang Madura ke Jawa atau Kalimantan; pertanian tegal yang rapuh memaksa mereka mencari penghidupan di tempat lain.

 

Garam, Tembakau, dan Sapi

Ekologi tegal juga menjadi arena kolonialisme. Pada akhir abad ke-19, Belanda menjalankan monopoli garam di Madura. Lautan menjadi ladang, tetapi harga dan distribusinya dikendalikan pusat. Madura dikenal sebagai “Pulau Garam”, namun petambak tetap berada di lingkaran kemiskinan struktural.

Pada lahan kering, tembakau menjadi komoditas emas sejak cultuurstelsel. Tahun 1861, penanaman tembakau skala besar di Proppo, Pamekasan, menandai babak baru agraria. Lahan pangan bergeser ke komoditas pasar. Hasilnya mengalir ke kas kolonial, sementara petani tetap hidup sederhana.

Sementara itu, sapi Madura menjadi simbol agro-pastoral yang khas. Sapi ini bukan hanya ternak, melainkan tabungan keluarga, tenaga kerja, hingga simbol budaya melalui karapan sapi dan sapi sonok.

Meski zaman berganti, pertanian masih mendominasi perekonomian Madura. Data terbaru BPS menunjukkan:

  • Sampang (2024): sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 28,76% PDRB.
  • Bangkalan (2024): pertanian menyumbang 32,5% PDRB, lebih besar dibanding sektor industri dan jasa.
  • Pamekasan (2024): pertanian bahkan hampir 50% PDRB, menunjukkan ketergantungan struktural pada sektor ini.
  • Sumenep (2024): selain pangan, perkebunan rakyat (tembakau, kelapa, jambu mete) masih menjadi tulang punggung ekonomi rumah tangga.

Produksi pangan pun relatif terbatas. Data produksi padi 2024 dari BPS Jawa Timur menunjukkan kabupaten-kabupaten di Madura berada di papan bawah dalam hal output dibanding daerah Jawa Timur lainnya.

Hal ini menegaskan kembali karakter ekologi tegal—Madura bukanlah lumbung padi, melainkan pulau dengan diversifikasi ekonomi agraris.

 

Pertanian, Migrasi, dan Masa Depan

Keterbatasan lahan subur dan dominasi pertanian tegal menyebabkan lapangan kerja sangat terbatas. Hal ini menjelaskan mengapa migrasi menjadi bagian dari budaya Madura. Suramadu membuka akses ke Surabaya, tetapi belum mampu mengubah struktur ketergantungan. Pertanian tetap menyumbang porsi terbesar PDRB, sementara industrialisasi berjalan lambat.

Dalam situasi ini, komoditas seperti tembakau, garam, dan sapi Madura masih menjadi penopang. Tetapi tanpa kebijakan khusus, mereka berisiko hanya menjadi “komoditas yang menyuburkan negeri tanpa menyejahterakan asalnya.”

Pertanian Madura berbeda dari Jawa karena ekologi yang berbeda. Ekologi tegal membentuk budaya, ekonomi, hingga politik migrasi. Ia menghasilkan komoditas khas—tembakau, garam, sapi—tetapi juga meninggalkan ironi ketidakadilan.

Membaca ulang Kuntowijoyo hari ini dengan data terbaru BPS, kita menemukan bahwa ciri khas itu masih melekat.

Madura tetap pulau agraris dengan wajah tegal. Tantangan kita adalah menjadikan tegal bukan hanya simbol keterbatasan, tetapi juga fondasi inovasi menuju masa depan yang lebih adil. (LITBANGKAMURA)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x