
Sumber gambar: genpi.co KAMURA.id – Klub bola Madura United kini hadir dengan jersei baru untuk perhelatan Super League musim 2026/2027. Klub yang masyhur dengan julukan Laskar Sape Kerrab ini baru saja memperkenalkan tiga model jersei – home, away, dan third – yang seluruhnya dirancang, di samping alasan estetika, juga untuk membangun narasi dan menunjukkan tentang siapa masyarakat Madura sesungguhnya.
Bagi siapa saja yang yang pernah melihat pakaian adat pesa’an, maka tentu akan langsung mengenali jejak visualnya dalam model jersei Madura United yang baru tersebut.
Annisa Zhafarina, Direktur Madura United sekaligus PT. Polana Bola Madura Bersatu, menjelaskan bahwa jersei home mengadaptasi visual pakaian adat pesa’an secara langsung. Konsep tersebut, katanya, menjadi simbol keterikatan klub dengan budaya dan tradisi lokal Madura.
Pernyataan ini menegaskan posisi klub: Madura United hadir sebagai representasi identitas kolektif, bukan semata entitas olahraga yang kebetulan berbasis di Madura.
Merujuk catatan Watie Moerany (1987) dalam bukunya yang bertajuk Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, baju adat pesa’an pada mulanya adalah busana keseharian masyarakat Madura.
Pakaian ini mula-mula lahir dari kebutuhan praktis: dikenakan petani, nelayan, dan pekerja kasar dalam aktivitas harian mereka. Baru kemudian, seiring waktu, pesa’an berkembang dan mewujud menjadi ikon budaya Madura.
Jejak sejarah ini penting, karena ia menunjukkan bahwa apa yang kini tampil di jersei Madura United sesungguhnya adalah pakaian rakyat biasa yang telah menempuh perjalanan panjang menuju pengakuan simbolik yang lebih luas.
Filosofi Dua Jersei Pertama
Warna merah, putih, dan hitam pada jersei home masing-masing membawa muatan filosofis tersendiri. Merah merepresentasikan keberanian, putih menyimbolkan ketulusan dan kejujuran, sementara hitam menegaskan keteguhan.
Tiga nilai tersebut dipertimbangkan dengan masak. Ketiganya adalah watak yang selama ini melekat pada citra masyarakat Madura dalam wacana publik: pemberani, lugas, dan keras kepala dalam mempertahankan prinsip.
Jersei ini juga dilengkapi tekstur bermotif Pulau Madura, sebuah penegas identitas lokal yang membuat siapa pun yang mengenakannya tidak bisa lepas dari asal-usul geografisnya.
Berbeda dari jersei home, jersei away justru meninggalkan rujukan busana adat dan berpindah ke lanskap kerja.
Pola geometri berbentuk petak yang menghiasi jersei ini terinspirasi dari tambak garam, salah satu urat nadi ekonomi Madura yang telah berlangsung turun-temurun.
Annisa menuturkan bahwa setiap petak dalam desain tersebut menggambarkan garis perjuangan sekaligus kerja keras para petani garam, yang dengan sabar mengolah tanah hingga menghasilkan kristal garam bernilai jual.
Keterangan di atas menunjukkan satu kesamaan: kedua jersei ini sama-sama menerjemahkan disiplin dan ketekunan sebagai nilai inti.
Jika jersei home berbicara tentang keberanian dan keteguhan sebagai watak kolektif, jersei away berbicara tentang kesabaran dan ketelatenan sebagai etos kerja. Keduanya saling melengkapi, membentuk potret masyarakat Madura yang tidak hanya berani, tetapi juga tekun dalam proses panjang mencapai hasil.
Jersei Third dan Penegas Kebersamaan
Jersei third membawa pesan yang lain lagi. Tampil dengan warna hitam pekat, jersei ini dimaknai sebagai simbol ketegasan, ketangguhan, sekaligus kerendahan hati.
Secara gradasi warna, komparasi tersebut memang jarang disandingkan, namun justru di situlah kekuatannya, identik dengan identitas masyarakat Madura yang lugas dan apa adanya.
Gelombang putih pada kerah dan lengan menyerupai denyut nadi, sebuah metafora visual atas dinamika perjalanan tim yang naik turun sepanjang musim.
Bagian paling menyentuh dari jersei ini terletak pada ilustrasi rangkulan yang menghiasi badan jersei.
Annisa menjelaskan bahwa ilustrasi tersebut melambangkan kebersamaan antara klub, pemain, dan suporter. Pesan Never Walk Alone, katanya, menjadi penegas bahwa Madura United dan pendukungnya tidak berjuang sendirian, baik saat meraih kemenangan maupun ketika berada dalam masa sulit.
Di balik desain ketiga jersei ini, nama PT. Polana Bola Madura Bersatu, disingkat PBMB, juga layak mendapat perhatian. Nama perusahaan ini bukan sekadar nomenklatur administratif yang dipilih asal demi kelengkapan dokumen pendirian badan usaha. Ada muatan makna yang sengaja disisipkan di dalamnya, dan makna itu berbicara jauh melampaui fungsi jersei sebagai seragam pertandingan.
“Polana” diambil dari kosakata Madura yang berarti “karena”, sehingga rangkaian nama tersebut secara harfiah bermakna karena bola Madura bersatu.
Struktur kalimat ini penting untuk dicermati. Kata “karena” dalam bahasa Indonesia menempatkan sesuatu sebagai sebab, bukan akibat. Artinya, persatuan masyarakat Madura tidak diposisikan sebagai hasil yang diharapkan muncul dari sepak bola, melainkan sebagai fondasi yang telah lebih dulu ada, dan dari fondasi itulah sepak bola — dalam hal ini Madura United — lahir dan mendapatkan alasan keberadaannya.
Logika penamaan semacam ini berbeda dari kebiasaan umum penamaan klub atau badan usaha olahraga, yang sering kali menempatkan prestasi atau kemenangan sebagai tujuan akhir yang hendak dicapai melalui nama besar atau gagah. PBMB justru menempuh jalan sebaliknya. Ia tidak menjanjikan trofi atau ambisi kompetitif dalam namanya, melainkan menegaskan syarat sosial yang harus lebih dulu terpenuhi: persatuan itu sendiri. Sepak bola, dalam kerangka ini, hanya bisa berjalan dan bermakna jika persatuan Madura sudah menjadi kenyataan yang hidup, bukan slogan.
Pemilihan nama ini pada akhirnya menempatkan sepak bola bukan sebagai industri semata, melainkan sebagai alasan sekaligus konsekuensi dari persatuan masyarakat Madura itu sendiri. Klub tidak sekadar mewakili wilayah geografis Madura di kompetisi Super League, tetapi berdiri sebagai wujud nyata dari sebuah nilai kolektif yang telah lama dipegang masyarakatnya. Dengan begitu, setiap pertandingan yang dijalani Madura United bukan hanya soal mengejar kemenangan di lapangan, melainkan juga soal merawat dan membuktikan bahwa persatuan yang disebutkan dalam nama perusahaan tersebut benar-benar hidup di luar lapangan.
Ketiga jersei ini, jika dibaca sebagai satu kesatuan narasi, sesungguhnya sedang menyusun ulang kisah tentang Madura melalui medium yang tidak terduga: kain olahraga.
Pesa’an yang dulunya pakaian keseharian, tambak garam yang menjadi ladang kerja keras, dan semangat kebersamaan yang terus dipegang suporter, semuanya dijahit menjadi identitas visual yang akan dikenakan pemain di setiap pertandingan Super League musim mendatang.
Madura United, melalui jersei ini, tidak sekadar tampil di lapangan hijau. Klub ini sedang membawa serta seluruh riwayat budaya dan ekonomi masyarakatnya ke setiap laga yang akan dijalani.
*
Fauzan Nur Ilahi

Tidak ada komentar